Fahd Abu Haikal memegang peluru nan menewaskan putranya menembus kaca depan mobil.(ABC News/Hamish Harty)
SEORANG ayah asal Palestina, Fahd Abu Haikal, berjanji bakal terus memperjuangkan keadilan bagi putranya nan baru berumur tujuh bulan, Sam, nan tewas ditembak oleh tentara Israel di kota Hebron, Tepi Barat.
Peristiwa tragis ini terjadi di distrik Tel Rumeida pada Jumat (5/6). Sam sedang duduk di bangku belakang mobil family ketika sebutir peluru menembus kaca depan, melukai tangan ayahnya, lampau mengenai kepala bayi tersebut sebelum akhirnya melukai sang ibu, Dania Salameh, di bagian pipi dan leher.
"Sam adalah segalanya. Dia adalah senyuman di rumah saya," ujar Abu Haikal dengan penuh duka. Ia menceritakan momen memilukan saat menggendong tubuh putranya nan mulai mendingin dalam perjalanan menuju rumah sakit, hingga akhirnya bayi tersebut dinyatakan meninggal dunia.
Kronologi Kejadian dan Bantahan Keluarga
Militer Israel (IDF) awalnya menyatakan bahwa tentara melepaskan tembakan lantaran menganggap kendaraan tersebut melaju kencang ke arah mereka. Namun, pernyataan ini dibantah keras oleh family Abu Haikal.
Nenek korban, Feryal Abu Haikal, nan juga berada di dalam mobil, menyatakan bahwa mereka justru berakhir saat memandang kendaraan militer dan tentara dari kejauhan. Fahd Abu Haikal menegaskan bahwa dia telah mengangkat tangan dari kemudi untuk menunjukkan bahwa dirinya bukan ancaman.
"Mereka menembakkan peluru pertama langsung ke kaca depan dan peluru lain ke mesin mobil tanpa ada peringatan apa pun," ungkapnya.
Peringatan: Kisah ini mengandung perincian penembakan militer nan mungkin dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian pembaca.
Penyelidikan Kriminal IDF
Menyusul kecaman publik nan meluas, IDF mengumumkan pada Minggu (7/6) bahwa mereka meluncurkan penyelidikan pidana melalui unit polisi militer. Dalam pernyataan awalnya, IDF mengakui bahwa para korban adalah penduduk sipil dan bukan kombatan serta menyatakan penyesalan atas kerugian nan dialami perseorangan nan tidak terlibat.
Saat ini, ibu korban, Dania Salameh, tetap menjalani perawatan intensif di rumah sakit Hebron akibat luka serius. "Saya kehilangan putra mini saya, Sam. Dia anak nan manis, selalu tersenyum dan tertawa," tuturnya dari tempat tidur rumah sakit.
Baca juga: Investigasi Kekerasan Seksual Sistematis Israel terhadap Tahanan Palestina
Krisis Kemanusiaan di Tepi Barat
Insiden ini menambah panjang daftar korban sipil di wilayah pendudukan. Organisasi kewenangan asasi manusia Israel, B'Tselem, mencatat bahwa sebanyak 1.032 penduduk Palestina tewas oleh pasukan Israel di Tepi Barat sejak 7 Oktober 2023. Sebanyak 234 di antara korban tewas ialah anak-anak.
Namun, angan bakal keadilan sering kali menemui jalan buntu. Data dari organisasi pembelaan Yesh Din menunjukkan bahwa kurang dari 1 persen dari nyaris 2.500 pengaduan terhadap tentara mengenai perlakuan terhadap penduduk Palestina antara tahun 2016 dan 2024 nan berhujung dengan dakwaan.
Meski demikian, Fahd Abu Haikal tetap teguh pada pendiriannya. Sambil memegang selongsong peluru dengan tangan nan tetap diperban, dia menegaskan, "Dia putra saya. Dia sangat berharga. Saya bakal mencoba nan terbaik dan mengambil semua langkah demi keadilan bagi Sam." (ABC/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·