Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara dua kekuatan nuklir Asia Selatan, India dan Pakistan, kembali memuncak tepat satu tahun setelah bentrok udara empat hari nan pecah pada Mei 2025. Meski kedua belah pihak menyatakan kemenangan strategis, para analis memperingatkan bahwa perang singkat tersebut justru mengekspos kerentanan serius di jantung pertahanan kedua negara.
Mengutip Al Jazeera, Pakistan merayakan awal Mei dengan beragam poster dan spanduk penghormatan kepada kepemimpinan militer nan dianggap sukses memandu pertahanan negara. Dalam sebuah upacara di Rawalpindi pada Kamis (07/05/2026), Angkatan Udara Pakistan (PAF) secara resmi memperingati keberhasilan mereka menjatuhkan jet tempur India dalam apa nan mereka sebut sebagai "Hari Pertempuran Kebenaran".
Namun, di seberang perbatasan, India juga bersikeras bahwa mereka adalah pemenang dalam bentrok tersebut. Perdana Menteri India Narendra Modi mengganti foto profilnya di media sosial X dengan logo resmi Operation Sindoor, nama operasi militer India melawan Pakistan, dan menyerukan rakyatnya untuk melakukan perihal nan sama sebagai corak penghormatan atas keberanian angkatan bersenjata mereka.
"Setahun nan lalu, angkatan bersenjata kita menunjukkan keberanian, presisi, dan tekad nan tak tertandingi. Hari ini, kita tetap teguh seperti sebelumnya dalam tekad kita untuk mengalahkan terorisme dan menghancurkan ekosistem pendukungnya," tulis Modi melalui akun X miliknya pada Kamis.
Klaim Kemenangan di Tengah Luka Militer
Konflik nan dipicu oleh serangan terhadap turis di Kashmir pada 22 April 2025 ini menyisakan perdebatan sengit mengenai siapa nan sebenarnya unggul di medan tempur. India meluncurkan Operation Sindoor pada 7 Mei 2025 dengan menyerang letak di dalam wilayah Pakistan, nan kemudian dibalas oleh Pakistan melalui Operation Bunyan al-Marsoos.
Air Marshal Awadhesh Kumar Bharti dari pihak India menyatakan dalam konvensi pers di New Delhi bahwa pasukannya telah menghancurkan 13 pesawat Pakistan dan menyerang 11 lapangan udara. Meskipun demikian, dia mengakui bahwa kerugian pesawat tempur, termasuk jet Rafale nan dijatuhkan oleh J-10C buatan China milik Pakistan, adalah perihal nan tak terelakkan dalam pertempuran.
"Kerugian adalah bagian dari pertempuran," ujar Bharti dengan nada datar saat mengakui jatuhnya pesawat India di hari pertama pertempuran.
Di sisi lain, Direktur Jenderal ISPR Pakistan, Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry, menyatakan bahwa negaranya telah mengalahkan musuh nan berukuran lima kali lebih besar dari mereka. Ia menegaskan bahwa Pakistan baru menunjukkan sebagian mini dari potensi militer nan mereka miliki.
"Kami telah mengalahkan musuh dan baru menunjukkan 10 persen dari potensi militer kami. Kami siap. Jika ada nan mau menguji kami, mereka dipersilakan untuk melakukannya," tegas Chaudhry dalam bertemu pers di Rawalpindi.
Lubang Pertahanan Pakistan dan Rudal BrahMos
Meski menyatakan kemenangan udara, Pakistan kudu menghadapi kebenaran pahit bahwa sistem pertahanan udara mereka kandas membendung rudal jarak jauh BrahMos milik India. Rudal supersonik tersebut sukses menghantam pangkalan udara krusial di Rawalpindi dan provinsi Sindh, nan membuktikan adanya celah besar dalam teknologi intersepsi Pakistan.
Analis pertahanan Tughral Yamin mengungkapkan bahwa pengetahuan permukaan bumi tidak lagi memberikan perlindungan strategis di era senjata presisi jarak jauh. Hal ini mendorong Pakistan untuk mempercepat operasionalisasi Army Rocket Force Command (ARFC) dan memperkenalkan sistem rudal baru seperti Fatah-III, Fatah-IV, dan Fatah-V nan mempunyai daya jangkau hingga 1.000 km.
"Konflik tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan permukaan bumi saja tidak lagi memberikan kedalaman strategis di era senjata presisi jarak jauh, drone, keahlian siber, dan sistem pedoman satelit," kata Yamin.
Muhammad Faisal, analis pertahanan nan berbasis di Sydney, menambahkan bahwa meskipun performa awal angkatan udara Pakistan luar biasa, serangan rudal India ke pangkalan udara menunjukkan kegagalan pada pertahanan darat. Pakistan sekarang dipaksa untuk meningkatkan anggaran militernya sebesar 20 persen menjadi 2,55 triliun rupee Pakistan alias setara US$ 9 miliar (Rp 156 triliun) demi menambal lubang tersebut.
Ancaman Perang Air dan Diplomasi Trump
Selain pertempuran fisik, India mengambil langkah radikal dengan menangguhkan Perjanjian Air Indus (IWT) pada April 2025, sebuah kesepakatan nan mengatur pembagian air sungai antara kedua negara. Langkah ini menjadi ancaman eksistensial bagi Pakistan nan sangat berjuntai pada aliran air sungai tersebut untuk sektor pertaniannya.
Menteri Perencanaan Pembangunan Pakistan, Ahsan Iqbal, menyebut tindakan India ini sebagai penggunaan air sebagai instrumen tekanan politik nan sangat serius bagi keamanan nasional. Sementara itu, India menegaskan perjanjian bakal tetap ditangguhkan hingga Pakistan mengambil langkah nyata terhadap golongan bersenjata lintas batas.
"Upaya India untuk menggunakan air sebagai instrumen tekanan menyoroti dimensi eksternal nan serius bagi keamanan air Pakistan," kata Iqbal dalam sebuah rapat pemerintah.
Di tengah kebuntuan ini, Pakistan justru mendapatkan untung diplomatik melalui hubungan dekat dengan Presiden AS Donald Trump. Pakistan menominasikan Trump untuk Nobel Perdamaian atas perannya dalam gencatan senjata pada 10 Mei 2025, nan kemudian membuka jalan bagi Panglima Angkatan Darat Pakistan, Field Marshal Asim Munir, untuk menjadi mediator krusial dalam bentrok AS-Iran di Timur Tengah.
Pakar kebijakan internasional C Uday Bhaskar memberikan peringatan keras bahwa kedua negara kudu segera mengaktifkan jalur diplomasi rahasia untuk mengendalikan eskalasi di masa depan. Menurutnya, jika bentrok kembali meletus, pergerakannya bakal terjadi sangat sigap dan susah terbendung.
"Kedua belah pihak kudu berinvestasi dalam diplomasi Rencana B dan saluran tenang untuk mengendalikan eskalasi. Karena ketika itu terjadi, itu bakal terjadi sangat cepat," pungkas Bhaskar.
(tps)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·