Atasi Darurat TPA Cipayung, Pemkot Depok Gandeng Bogor Kelola Sampah Jadi Listrik

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Atasi Darurat TPA Cipayung, Pemkot Depok Gandeng Bogor Kelola Sampah Jadi Listrik Seorang pemulung melangkah di atas tumpukan sampah di TPA Cipayung, Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lampau .(Antara)

PEMERINTAH Kota Depok, Jawa Barat, berkomitmen kuat mengurangi volume sampah nan masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung melalui kerjasama lintas sektor. Langkah sigap ini diambil mengingat kondisi TPA Cipayung nan sudah berstatus darurat dengan ketinggian gunungan sampah mencapai lebih dari 30 meter.

Kondisi overload tersebut rawan memicu kejadian longsor dan berkapak pada penumpukan sampah di beragam Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di wilayah Kota Depok.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Reni Siti Nuraeni, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengambil langkah strategis untuk mengurai benang kusut persoalan ini.

"Pemkot Depok telah melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) krusial Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), dan kerjasama pembuangan sampah dengan beragam pihak, seperti dengan Danantara dan Pemerintah Kota Bogor," kata Reni, Kamis (21/5).

Melalui percepatan akomodasi PSEL dan kerja sama regional ini, beban sampah di Kota Depok diproyeksikan dapat berkurang hingga 500 ton per hari. "Pengurangan ini sangat krusial mengingat TPA Cipayung saat ini sudah mengalami kelebihan kapabilitas (overload)," ujarnya.

Berdasarkan kesepakatan, Pemkot Depok bakal memasok 750 ton sampah per hari ke akomodasi pengolahan di Kota Bogor. Program pengiriman ini ditargetkan mulai melangkah penuh pada tahun 2028.

Reni berambisi kerja sama regional ini dapat menjadi solusi jangka panjang nan efektif. "Warga juga diimbau memilah sampah dari rumah guna mendukung pengolahan nan lebih efektif," ucapnya.

Sebelumnya, Wali Kota Depok Supian Suri menjelaskan bahwa skema kerja sama lintas sektor ini menempatkan Kota Bogor sebagai letak pengolahan, sementara Kota Depok bertindak sebagai salah satu pemasok utama sampah. “Kota Bogor menyiapkan fasilitasnya, sementara Kota Depok mengirimkan sampahnya,” ujar Supian, pekan lalu.

Dalam program tersebut, sebanyak 750 ton sampah per hari dari Depok bakal dikirim ke akomodasi pengolahan di area Kayumanis, Kota Bogor. Volume tersebut dibutuhkan untuk mendukung operasional PSEL nan mensyaratkan pasokan minimal sekitar 1.000 ton sampah per hari.

Supian mengakui, produksi sampah berdikari dari Kota Bogor saat ini belum mencukupi periode pemisah kebutuhan operasional teknologi tersebut. Karena itu, kerjasama antardaerah menjadi kunci keberhasilan proyek.

“Karenanya, awal 2028 pengiriman sampah dari Kota Depok ke Kota Bogor bisa melangkah dengan kapabilitas sekitar 750 ton per hari,” kata dia.

Edukasi Pemilahan Sampah
Supian optimistis keterlibatan Depok dalam proyek daya terbarukan ini bakal berakibat langsung pada pengurangan beban TPA Cipayung. Namun, dia juga mengingatkan bahwa pembenahan di hulu tidak boleh diabaikan.

Menurut dia, edukasi pemilahan sampah rumah tangga perlu diperkuat, terutama melalui peran kader PKK di tingkat masyarakat. “Pemisahan sampah organik dan anorganik kudu terus dibiasakan agar pengelolaan di hilir lebih optimal,” ujarnya.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Bogor saat ini tengah mempercepat pembangunan dua akomodasi PSEL sebagai bagian dari transformasi total sistem pengelolaan sampah modern.

"Wali Kota Bogor (Dedie A Rachim) menyebutkan, proyek PSEL berlokasi di Kayumanis, Kota Bogor, nan telah memasuki tahap penandatanganan perjanjian kerja sama," pungkasnya. (KG/P-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia