Asosiasi Harap Motor Listrik Nasional Libatkan Produsen Lokal

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Motor listrik Polytron 350 digunakan sebagai armada operasional PLN UID Jawa Timur. Foto: Polytron

Setelah mobil nasional, Presiden Prabowo kembali mengutarakan kemauan untuk memulai rencana program serupa unik untuk roda dua. Bahkan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi menyebut modelnya bakal segera diluncurkan dalam waktu dekat.

"Kalau berkenaan dengan motor listrik nasional, kelak pada waktunya bakal kami sampaikan. Dalam waktu dekat mungkin bakal ada semacam launching motor listrik nasional hasil karya anak bangsa," kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan awal pekan lalu.

Menanggapi itu, Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), Budi Setiyadi menyambut baik rencana tersebut. Namun dia belum mau berkomentar lebih jauh dan memilih menunggu info nan lebih jelas.

"Kami menyambut baik, ya. Cuma apapun nan dimaksud pak Presiden dengan motor listrik nasional. Sebetulnya menurut saya ada beberapa nan mungkin saya tetap belum tahu ya," kata Budi dihubungi kumparan, Jumat (24/7/2026).

Suasana test drive motor listrik di PEVS 2025. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Budi menambahkan, rencana motor listrik nasional baiknya melibatkan dengan pemain lokal. Sebab, industri roda dua elektrik saat ini dinilainya sudah mulai berkembang dengan kapabilitas produksi mumpuni.

"Nah kelak kita lihat pak presiden arahanya mau ke mana. Soalnya kan sudah ada merek Gesits nan punya BUMN, mereknya juga nasional. Mungkin barangkali itu nan dikuatkan. Ada juga merek lokal lain seperti Polytron, Selis, dan sebagainya," jelasnya.

Selain produsen pembuat, motor listrik nasional juga diharapkan dapat menjadi wadah industri pendukungnya. Utamanya soal nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri alias TKDN nan selalu ditekankan pemerintah di industri manufaktur.

"Ya tentunya jika motor listrik nasional itu pasti kandungan komponen lokalnya harusnya bisa tinggi. Mungkin saat ini jika seperti inti baterai itu ada nan tetap impor, tetapi beberapa packing sudah di Indonesia," kata Budi.

Proses produksi dan perakitan motor listrik merek ALVA di pabrik berlokasi di Cikarang, Jawa Barat. Foto: ALVA Indonesia

Bila terwujud, Budi bilang pengaruh berganda untuk industri otomotif roda dua, terutama elektrik bisa terus memperkuat dan tumbuh. Sebab, sejak satu tahun terakhir, diakuinya penjualan di segmen ini tengah melambat imbas belum ada program insentif lagi.

"Kalau penjualan sebenarnya, hingar bingar menyangkut masalah subsidi itu pasti ada pengaruh dan itu bukan pengaruh nan baik untuk penjualan lantaran banyak masyarakat jadi menunggu. Kemudian secara jumlah pabrik juga sudah cukup banyak," paparnya.

Asosiasi mau agar pemerintah segera menetapkan kebijakan program pembelian motor listrik nan jelas untuk tahun dan beberapa periode mendatang. Sebab, produsen perlu menyesuaikan kapabilitas produksi pabrik dengan jumlah permintaan nan ada.

"Ya jika memang ada Alhamdulillah, jika tidak ada pun kita bakal siap fight lantaran ini terus berjalan. Kami berambisi pemerintah jangan gantung, sehingga tidak berpengaruh besar pada penjualan," tandas Budi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan