Kemunculan rivalitas nan sengit antara Amerika Serikat dan Tiongkok—mulai dari perang jual beli hingga rivalitas di bagian teknologi—kemudian menjadikan area Indo-Pasifik sebagai panggung utama pertarungan geopolitik di abad 21. Hal tersebut memunculkan suatu pernyataan: Apakah negara-negara nan berada di area Asia Tenggara bakal kehilangan relevansinya dan akhirnya berujung ke rusaknya sentralitas ASEAN?
Untuk memahaminya, kajian ini menggunakan kerangka complex interdependence dari Keohane dan Nye (2011). Teori ini menentang pemikiran realisme tradisional dan mengedepankan variabel seperti (1) adanya beragam kanal hubungan antar masyarakat dan negara, (2) tidak adanya jenjang rumor nan kaku (isu ekonomi dan sosial bisa menjadi prioritas utama di atas rumor militer), dan (3) peran kekuatan militer nan semakin berkurang dalam menyelesaikan sengketa antarnegara.
Pilar dari ketahanan ASEAN terletak kepada aspek domestiknya nan masif seperti jumlah populasi manusianya. Keohane dan Nye (2011) menyatakan bahwa kekuatan suatu area tak lagi diukur dari kekuatan tank alias jet tempur, tetapi dari kapabilitas ketahanan sosial-ekonominya. ASEAN saat ini berada di puncak bingkisan demografi nan luar biasa. Dengan populasi nan mencapai nomor fantastis, area ini tidak hanya besar secara kuantitas, tetapi juga berbobot dalam struktur usia—contoh saja Indonesia nan bakal mempunyai bingkisan Demografi pada 2045.
Bonus demografi ini bukan sekadar angka, melainkan juga mesin pertumbuhan ekonomi dan inovasi. Mayoritas angkatan kerja nan didominasi golongan usia muda menjadi pendorong utama produktivitas dan konsumsi domestik nan menjaga ekonomi ASEAN tetap tumbuh stabil di setiap tahun (Natalia, 2023). Hal ini menciptakan ketergantungan timbal kembali (mutual dependency) dengan kekuatan besar seperti Tiongkok dan Amerika Serikat, lantaran dua kekuatan besar itu butuh pasar ASEAN nan besar dan terus tumbuh.
ASEAN juga mulai beralih bentuk menjadi pedoman produksi berbobot tambah. Kekayaan sumber daya manusia ini menjadi magnet investasi asing nan membikin kedua negara adikuasa tidak bisa mengabaikan area ini. Dengan kata lain, ASEAN memanfaatkan momentum demografisnya untuk memastikan bahwa dia tetap menjadi pusat gravitasi ekonomi, bukan sekadar pion dalam papan catur geopolitik global.
Diplomasi Berayun: Seni Hedging di Antara Dua Kekuatan Besar
Strategi diplomasi nan berayun ini menjadikan daya tawar ASEAN meningkat setelah adanya demografi. Di tengah tekanan kuat agar negara-negara Asia Tenggara memilih kubu, ASEAN secara kolektif menunjukkan keahlian dalam melakukan hedging atau strategi “mengayun” di antara dua kekuatan besar (Wirjawan, 2025).
Tidak ada satu pun negara personil ASEAN nan secara terang-terangan memihak Amerika Serikat untuk melawan Tiongkok. Sementara Filipina—karena tekanan langsung di Laut China Selatan—memang lebih dekat ke AS, dan Kamboja-Laos lebih berjuntai pada Beijing, sebagian besar negara kunci seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura tetap pada jalur nan mengusahakan dua kekuatan besar itu untuk “duduk bersama”.
ASEAN mempertahankan hubungan ekonomi nan kuat dengan Tiongkok, seperti lewat Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), sembari tetap membuka pintu selebar-lebarnya bagi investasi dan kemitraan keamanan dari AS (Nathan, 2025; Jones & Supakul, 2025). Dalam analisa complex interdependence, ketika Amerika Serikat cemas tentang supremasi militer Tiongkok nan bangkit, ASEAN kemudian mengedepankan rumor perdagangan, konektivitas, dan perubahan iklim.
Dengan memanfaatkan banyaknya kanal komunikasi dan menghindari konfrontasi militer langsung, ASEAN memaksa kedua negara adikuasa untuk tetap terlibat dalam platform yang dipimpin ASEAN, seperti East Asia Summit (EAS) dan ASEAN Defence Ministers’ Meeting-Plus (ADMM-Plus). Manuver seperti itulah nan akhirnya membikin ASEAN terus relevan, lantaran keberhasilannya menarasikan area dari konfrontasi menjadi kerja sama pembangunan.
Kemampuan “mengayun” di atas tidak bakal mungkin terjadi tanpa komitmen kolektif nan kuat terhadap prinsip ASEAN Centrality. Meskipun banyak kritik kerap dilontarkan mengenai lambannya proses ASEAN dalam mengambil sikap menggunakan konsensus, kebenaran geopolitik membuktikan bahwa sentralitas ini tetap menjadi payung nan paling dapat diterima oleh semua pihak.
Deklarasi ASEAN pada tahun 2024 menegaskan dengan jelas bahwa arsitektur Indo-Pasifik kudu tetap berpusat pada ASEAN (ASEAN-centred) (ASEAN, 2024). Lebih jauh lagi, prinsip ini dioperasionalkan melalui ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) nan diadopsi pada 2019. Operasionalisasi prinsip seperti itulah nan tak hanya menegaskan ASEAN Centrality, tetapi juga menawarkan platform konkret untuk kerja sama maritim, konektivitas, dan tujuan pembangunan berkelanjutan.
Sentralitas ASEAN berfaedah sebagai perekat nan menjaga stabilitas kawasan. Dalam kondisi rivalitas seperti sekarang, tidak ada satu pun negara—baik AS maupun Tiongkok—yang menginginkan kekosongan kepemimpinan di Asia Tenggara nan dapat memicu instabilitas.
Karena ASEAN mengisi kekosongan ini dengan langkah inklusif seperti norma internasional—seperti Treaty of Amity and Cooperation (TAC)—ASEAN menjadi satu-satunya forum di mana Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dan Tiongkok bisa duduk dalam satu meja untuk membahas isu-isu strategis secara diplomatis. Menegaskan Relevansi ASEAN, khususnya dalam mencegah gesekan antara dua hegemoni nan berubah menjadi bentrok terbuka.
Untuk memandang lebih dalam lagi, di sini bakal digunakan contoh berupa pengelolaan ASEAN terhadap rantai pasok mineral kritis. Dalam transisi daya global, mineral seperti nikel, kobalt, dan tanah jarang adalah “minyak baru”.
Di sinilah letak kekuatan tawar ASEAN nan sesungguhnya. Kawasan ini secara kolektif menguasai 46% persediaan nikel dunia, 22.7% bauksit, dan 20% rare earth elements (REE) (Bhaskara, 2025). Indonesia dan Filipina adalah pemasok utama nikel global. Secara alamiah, ASEAN menciptakan complex interdependence dengan Tiongkok nan selama ini mendominasi pemurnian dan downstreaming mineral tersebut, dan AS nan berupaya mengurangi ketergantungannya dengan mineral kritis dari Tiongkok.
Lewat ASEAN Mineral Development Vision 2045, ASEAN berupaya untuk naik kelas ke mata rantai produksi nan lebih tinggi, seperti produksi baterai kendaraan listrik dan sel surya. Indonesia dengan tegas melarang ekspor bijih nikel mentah untuk mendorong pembangunan pabrik peleburan dalam negeri, sementara Vietnam, Malaysia, dan Tailan mulai membangun industri kendaraan listrik (EV) dan panel surya domestik (Bhaskara, 2025).
Maka, ASEAN memposisikan diri sebagai pemain kunci nan menentukan rantai pasok global, sehingga ini membikin AS maupun Tiongkok kudu “mencuri hati” ASEAN demi akses dan investasi di area ini, sekaligus kudu duduk dan berbincang dengan ASEAN melalui forum-forum nan dipimpin ASEAN. Ini adalah corak leverage paling nyata dari complex interdependence nan digerakkan oleh ASEAN.
Kesimpulan
ASEAN tetap relevan di abad ke-21 bukan lantaran dia mempunyai angkatan laut terbesar alias kekuatan militer paling modern. Relevansinya terletak pada kemampuannya mendefinisikan ulang kekuasaan lewat complex interdependence. Dengan memanfaatkan ledakan demografi dan sumber daya alamnya, ASEAN menciptakan ketergantungan ekonomi nan tidak dapat diabaikan oleh Tiongkok maupun AS.
Dengan strategi hedging yang lincah, dia menghindari perangkap polarisasi. Dengan mempertahankan ASEAN Centrality melalui instrumen seperti AOIP, dia menyediakan platform diplomatik nan stabil di tengah angin besar rivalitas.
Melalui studi kasus mineral kritis, terbukti bahwa ASEAN bukanlah objek pasif dari arsitektur Indo-Pasifik, melainkan arsitek nan secara aktif membentuk tatanan baru nan multipolar dan inklusif. Di tangan ASEAN, area Indo-Pasifik tidak kudu menjadi arena tabrakan antar peradaban, tetapi bisa menjadi ruang kerjasama nan saling menguntungkan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·