Ilustrasi.(AFP)
KONFLIK antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali panas setelah kapal milik AS menembaki kapal ketika hendak menuju pelabuhan Iran lantaran melanggar blokade. Itu disampaikan oleh Pusat Komando Militer AS (Centcom) mengenai blokade nan bertindak sejak 13 April 2026. Ketegangan Iran dan AS membikin harga minyak naik.
Harga minyak naik lebih dari 1% pada awal perdagangan hari ini 6 Juni 2026 karena ketegangan baru di Timur Tengah mengguncang pasar. Iran meluncurkan rudal ke arah Kuwait dan Bahrain, sementara upaya untuk menghidupkan kembali hubungan diplomatik antara Teheran dan Washington tampaknya tidak banyak mengalami kemajuan.
Menurut militer AS, Iran menembakkan rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain, meskipun tidak ada sasaran nan terkena. Sebagai tanggapan atas apa nan digambarkannya sebagai upaya serangan, pasukan AS melancarkan serangan terhadap Pulau Qeshm di Iran. Para pelaku pasar bereaksi sigap terhadap potensi gangguan pengedaran di Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan minyak dunia. Kenaikan 1 persen ini mencerminkan premi akibat nan kembali diperhitungkan oleh penanammodal di tengah ketidakpastian keamanan di wilayah produsen utama.
| Harga Minyak Dunia | Naik 1% |
| Sentimen Utama | Konflik Iran Memanas |
| Status Data | Input User (Sedang Divalidasi Backend) |
Dampak Terhadap Ekonomi Global
Dikutip dari The Economic Times, nilai minyak mentah Brent naik $1,05, alias 1,09%, menjadi $97,05 per barel, sementara nilai minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik $1,01, alias 1,08%, menjadi $94,77.
Para penanammodal terus memantau perkembangan seputar bentrok tersebut, dengan Iran meninjau usulan perjanjian dari Amerika Serikat nan bermaksud mengakhiri permusuhan. Media Iran melaporkan pada hari Selasa bahwa Teheran belum melakukan kontak dengan Washington selama beberapa hari. Namun, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa negosiasi terus berlanjut.
Kenaikan nilai minyak mentah sering kali menjadi beban tambahan bagi negara-negara importir energi. Jika tren penguatan ini bersambung akibat bentrok nan berkepanjangan, tekanan inflasi dunia diprediksi bakal meningkat. Hal ini juga berpotensi memengaruhi kebijakan moneter bank sentral di beragam negara dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Di sisi lain, penguatan nilai komoditas ini memberikan angin segar bagi negara-negara eksportir minyak, namun ketidakpastian geopolitik tetap menjadi akibat besar bagi volatilitas pasar modal dan nilai tukar mata duit dunia. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·