Awaludin
, Jurnalis-Sabtu, 31 Januari 2026 |07:29 WIB

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres (Foto: dok ist)
JAKARTA - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghadapi akibat keruntuhan finansial nan bakal segera terjadi akibat kegagalan sejumlah negara personil bayar iuran wajib mereka.
Peringatan keras ini disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam surat resmi kepada seluruh 193 negara anggota.
Guterres menegaskan, bahwa krisis finansial PBB sekarang berada pada titik paling genting, menakut-nakuti keberlanjutan program-program utama organisasi bumi tersebut. Ia apalagi memperingatkan bahwa biaya operasional PBB bisa lenyap pada Juli 2026 jika situasi tidak segera dibenahi.
“PBB menghadapi krisis finansial nan semakin dalam dan serius. Kita tidak dapat melaksanakan anggaran dengan biaya nan belum terkumpul, alias mengembalikan duit nan tidak pernah kita terima,” tulis Guterres dalam suratnya.
Krisis ini dipicu oleh keputusan sejumlah negara, termasuk kontributor terbesar PBB, Amerika Serikat, nan menolak bayar kontribusi untuk anggaran reguler dan operasi penjaga perdamaian. Washington juga menarik diri dari puluhan badan internasional nan dinilai sebagai pemborosan duit pembayar pajak.
Meski tidak menyebut negara tertentu, Guterres menegaskan bahwa “keputusan untuk tidak menghormati kontribusi nan dinilai sekarang telah diumumkan secara resmi,” dan perihal tersebut menakut-nakuti integritas seluruh sistem PBB.
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari
Follow
Berita Terkait
Telusuri buletin news lainnya
8 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·