Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi militer Amerika Serikat (AS) di area Amerika Latin semakin membara setelah komando militer Washington kembali melancarkan serangan mematikan terhadap kapal nan dituduh sebagai pengangkut narkoba. Insiden terbaru ini menandai serangan fatal kelima nan dilakukan militer AS hanya dalam waktu lima hari berturut-turut.
Komando Selatan AS (US Southern Command) mengonfirmasi bahwa pihaknya telah melakukan serangan kinetik mematikan terhadap sebuah kapal nan dioperasikan oleh Organisasi Teroris Terunjuk di Pasifik Timur. Meski demikian, pihak militer AS tidak menyebut secara spesifik nama golongan nan menjadi sasaran serangan rudal tersebut.
"Tiga laki-laki narco-terrorist tewas dalam tindakan ini," tulis pernyataan resmi Komando Selatan AS melalui unggahan di media sosial X.
Rentetan serangan udara dan laut ini menambah daftar panjang korban jiwa dalam operasi militer AS di wilayah tersebut. Berdasarkan info nan dihimpun oleh instansi buletin AFP, total korban tewas akibat operasi penumpasan kapal penyelundup ini sekarang telah mencapai sedikitnya 177 orang.
Sebelum kejadian terbaru ini, militer AS juga melaporkan telah meledakkan dua kapal di Samudra Pasifik Timur pada hari Senin nan dituduh menyelundupkan narkoba. Serangan tersebut menewaskan total lima orang dan hanya menyisakan satu orang nan selamat dari maut.
Kekerasan tidak berakhir di situ lantaran pada hari berikutnya, militer Washington kembali bergerak dan menghabisi nyawa empat orang lainnya di letak nan berdekatan. Pihak militer menyatakan tindakan tegas ini merupakan bagian dari upaya melindungi keamanan nasional dari ancaman kartel internasional.
Pemerintahan Presiden Donald Trump bersikeras bahwa mereka saat ini secara efektif sedang bertempur dengan apa nan mereka sebut sebagai "narco-terrorist" nan beraksi di Amerika Latin. Namun, pemerintah AS hingga sekarang belum memberikan bukti definitif bahwa kapal-kapal nan menjadi sasaran tersebut betul-betul terlibat dalam perdagangan narkoba.
Ketiadaan bukti tersebut memicu perdebatan sengit di kancah internasional mengenai legalitas operasi militer nan dilakukan Washington. Pakar norma internasional dan golongan kewenangan asasi manusia menyatakan bahwa serangan-serangan tersebut kemungkinan besar merupakan pembunuhan di luar hukum.
Hal ini didasari pada kebenaran bahwa serangan tersebut tampaknya menargetkan penduduk sipil nan tidak memberikan ancaman langsung terhadap Amerika Serikat. Pada bulan Januari lalu, pengacara apalagi telah mengusulkan gugatan federal terhadap pemerintah AS atas nama family dari dua laki-laki asal desa nelayan di Trinidad nan tewas dalam serangan Oktober di Karibia.
"Pembunuhan nan direncanakan dan disengaja ini tidak mempunyai dasar pembenaran norma nan masuk akal," bunyi pernyataan dalam gugatan norma tersebut nan menentang keras tindakan militer AS di perairan internasional.
American Civil Liberties Union (ACLU) juga mengecam keras narasi nan dibangun oleh pemerintah mengenai profil para korban nan tewas di lautan. Organisasi ini menilai pemerintah telah melakukan penyebaran ketakutan tanpa dasar nan jelas mengenai identitas para korban.
"Pemerintah terus melontarkan klaim nan tidak terbukti dan menebar ketakutan tentang siapa orang-orang ini, meskipun investigasi menunjukkan bahwa beberapa dari mereka nan tewas adalah nelayan nan hanya mencoba mencari nafkah untuk family mereka," tegas ACLU.
Kekhawatiran senada juga disampaikan oleh perwakilan Partai Demokrat, Joaquin Castro dan Sara Jacobs, nan menyurati Komisi Hak Asasi Manusia Inter-Amerika bulan lalu. Mereka meningkatkan sirine kewaspadaan atas pembunuhan tersebut dan menyoroti kebenaran bahwa nama serta kebangsaan sebagian besar korban hingga sekarang tetap tetap misterius.
Serangan terhadap kapal-kapal di Amerika Latin ini terus bersambung apalagi di tengah konsentrasi militer AS nan sedang terpecah ke Timur Tengah. Sebagaimana diketahui, saat ini militer AS juga tengah terlibat dalam peperangan terbuka dengan Iran nan telah berjalan selama beberapa minggu terakhir.
(tps/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·