Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan kembali membombardir sebuah kapal nan diduga membawa narkoba di Laut Karibia pada Senin (4/5/2026). Serangan udara ini menewaskan dua orang dan menambah panjang daftar korban jiwa dalam kampanye militer garang pemerintahan Donald Trump di perairan Amerika Latin.
Mengutip laporan The Guardian pada Selasa (5/5/2026), kampanye penghancuran kapal nan diduga melakukan perdagangan narkoba ini telah berjalan sejak awal September dan telah menewaskan sedikitnya 188 orang. Selain di Karibia, serangan serupa juga terjadi di Samudra Pasifik bagian timur.
Meskipun saat ini AS sedang terlibat dalam perang dengan Iran, gelombang serangan terhadap kapal-kapal di bagian bumi barat justru meningkat kembali dalam beberapa pekan terakhir.
Hal ini menunjukkan bahwa langkah garang pemerintahan Trump untuk menghentikan apa nan mereka sebut sebagai "narkoterorisme" tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, meskipun militer belum memberikan bukti konkret bahwa kapal-kapal nan dihancurkan tersebut betul-betul membawa narkoba.
Serangan-serangan ini bermulai saat AS membangun kehadiran militer terbesarnya di wilayah tersebut dalam beberapa generasi. Operasi ini dilakukan beberapa bulan sebelum penyergapan pada Januari lampau nan menangkap Presiden Venezuela saat itu, Nicolás Maduro, nan kemudian dibawa ke New York untuk menghadapi tuduhan perdagangan narkoba.
Dalam serangan terbaru pada hari Senin, Komando Selatan AS (Southcom) mengulangi pernyataan sebelumnya bahwa mereka menargetkan tersangka pengedar narkoba di sepanjang rute penyelundupan nan telah diketahui. Pihak militer juga mengunggah sebuah video di platform X nan memperlihatkan sebuah kapal bergerak di atas air sebelum ledakan besar melalapnya dalam kobaran api.
Presiden Donald Trump sendiri telah menyatakan bahwa Amerika Serikat saat ini berada dalam "konflik bersenjata" dengan kartel-kartel di Amerika Latin. Ia membenarkan serangan-serangan maut tersebut sebagai eskalasi nan diperlukan untuk membendung arus narkoba ke AS dan menghentikan nomor kematian akibat overdosis nan merenggut nyawa penduduk Amerika.
Namun, hingga saat ini pemerintahan Trump tetap menawarkan sangat sedikit bukti untuk mendukung klaim mereka mengenai pembunuhan para "narkoteroris" tersebut. Kondisi ini memicu kritik dari beragam pihak nan mulai mempertanyakan legalitas secara keseluruhan dari serangan rudal terhadap kapal-kapal sipil tersebut.
(tps/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·