Perusahaan di Amerika Serikat (AS) secara tak terduga mengurangi jumlah tenaga kerja pada Juli, sementara info perekrutan untuk dua bulan sebelumnya direvisi lebih rendah. Hal ini mengindikasikan pasar tenaga kerja AS lebih lemah dari perkiraan sebelumnya, setelah sempat menunjukkan kekuatan nan mengejutkan pada awal tahun.
Data Bureau of Labor Statistics (BLS) nan dirilis Jumat (7/8) menunjukkan nonfarm payrolls berkurang 23.000 pekerjaan pada Juli, setelah nomor Mei dan Juni direvisi turun secara campuran sebanyak 103.000 pekerjaan. Di sisi lain, tingkat pengangguran turun menjadi 4,1 persen seiring berlanjutnya penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja, sementara pertumbuhan bayaran juga melambat.
Laporan itu menunjukkan pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum di tengah kenaikan nilai dan ketidakpastian akibat perang Iran, meski info terbaru sebelumnya memperlihatkan shopping konsumen dan investasi upaya tetap kuat. Data ini juga berpotensi mendorong Federal Reserve (The Fed) menunda kenaikan suku kembang lantaran para pejabat bank sentral kudu menyeimbangkan akibat inflasi dengan kondisi pasar tenaga kerja.
Saham-saham AS dibuka menguat, sementara imbal hasil obligasi pemerintah turun setelah penanammodal mengurangi ekspektasi kenaikan suku kembang The Fed pada September. Meski demikian, laporan inflasi nan bakal datang, termasuk info Indeks Harga Konsumen (CPI) Juli nan dijadwalkan rilis pekan depan, diperkirakan bakal menjadi penentu arah kebijakan The Fed bulan depan.
“Laporan pasar tenaga kerja nan lemah semestinya menurunkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku kembang The Fed dalam beberapa bulan ke depan, tetapi laporan inflasi bakal menjadi konsentrasi utama para pejabat The Fed,” kata Kepala Ekonom Nationwide, Kathy Bostjancic, dalam sebuah catatan, dikutip dari Bloomberg, dikutip Sabtu (8/8).
“Jika inflasi tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan, maka kesempatan kenaikan suku kembang bakal meningkat,” tambah Bostjancic.
Penurunan jumlah pekerjaan terutama dipicu oleh berkurangnya tenaga kerja di sektor pemerintahan, rekreasi dan perhotelan, serta perdagangan ritel. Sementara itu, jumlah pekerja di sektor swasta bertambah 30.000 orang untuk bulan kedua berturut-turut, dipimpin oleh sektor jasa kesehatan dan support sosial.
Kemudian pemerintah wilayah juga memangkas nyaris 60.000 pekerjaan, nyaris seluruhnya berasal dari sektor pendidikan. Angka itu dinilai cukup naik turun pada musim panas lantaran banyak pembimbing sementara keluar dari daftar penggajian sebelum kembali bekerja saat tahun aliran baru dimulai. Jumlah pegawai pemerintah federal juga mengalami penurunan.
Lapangan kerja di sektor rekreasi dan perhotelan turun ke level terendah dalam nyaris satu tahun setelah restoran dan bar mengurangi jumlah karyawan. Hal ini mengindikasikan Piala Dunia FIFA nan berhujung pada 19 Juli tidak bisa memberikan dorongan terhadap pembuatan lapangan kerja sebagaimana diperkirakan banyak analis.
Laporan ini dirilis di tengah pengumuman pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh sejumlah perusahaan besar sepanjang bulan lalu, termasuk Microsoft Corp, Uber Technologies Inc, dan Visa Inc. Jumlah pekerja di sektor aktivitas keuangan,yang banyak mempekerjakan pekerja kantoran dan dianggap paling rentan terhadap mengambil kepintaran buatan (AI), juga turun ke level terendah dalam empat tahun.
Sebaliknya, lapangan kerja di sektor manufaktur dan bangunan terus meningkat. Banyak ahli ekonomi menilai pembangunan pusat info menjadi salah satu pendorong permintaan tenaga kerja bangunan sepanjang 2026, meskipun pembangunan perumahan tetap tertahan akibat tingginya suku bunga.
Sementara itu, tingkat partisipasi angkatan kerja, ialah proporsi masyarakat nan bekerja alias aktif mencari pekerjaan, turun menjadi 61,4 persen. Di luar periode pandemi, nomor tersebut merupakan nan terendah sejak dasawarsa 1970-an. Untuk golongan usia produktif 25–54 tahun, tingkat partisipasi memang sedikit meningkat, tetapi tetap berada di kisaran level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Kenaikan bayaran juga berada di bawah perkiraan. Rata-rata bayaran per jam meningkat 3,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi laju pertumbuhan paling lambat dalam lebih dari lima tahun. Para ahli ekonomi mencermati perkembangan dinamika penawaran dan permintaan tenaga kerja terhadap pertumbuhan upah.
Daya beli masyarakat juga diperkirakan menjadi rumor krusial menjelang pemilu sela pada November, terutama lantaran perang Iran semakin mendorong kenaikan biaya hidup. Meski sentimen konsumen pulih pada bulan lalu, pandangan masyarakat terhadap kondisi finansial mereka saat ini tetap berada di bawah level beberapa tahun terakhir.
“Pertumbuhan lapangan kerja Juli tergolong lemah. Pelemahan payrolls dan meningkatnya PHK kemungkinan merupakan sinyal nan lebih kuat dibandingkan turunnya tingkat pengangguran, nan justru disebabkan oleh menyusutnya jumlah angkatan kerja. Dikombinasikan dengan proyeksi kami bahwa info CPI pekan depan bakal lemah, kami memperkirakan The Fed bakal mempertahankan suku kembang pada September,” tulis ahli ekonomi Bloomberg, Anna Wong, Andrew Sacher, dan Eliza Winger.
Meski demikian, sejumlah info lain nan dirilis pekan ini memberikan gambaran nan lebih positif. ADP Research melaporkan pertumbuhan bayaran pekerja sektor swasta nan beranjak pekerjaan meningkat pada Juli ke level tertinggi dalam nyaris satu tahun. Sementara itu, Bank of America Institute mencatat kenaikan bayaran dan pertumbuhan lapangan kerja di kalangan rumah tangga berpendapatan rendah bulan lalu. Indikator rencana perekrutan upaya mini nan dirilis National Federation of Independent Business (NFIB) juga naik ke level tertinggi dalam nyaris empat tahun.
“Menurut saya, info ini tidak terlihat meyakinkan. Angka-angkanya tidak sejalan dengan kondisi pasar tenaga kerja nan kami lihat secara lebih luas. Jika pasar tenaga kerja memang melemah sedalam nan ditunjukkan laporan Juni dan Juli, kita pasti sudah mendengarnya dari para pejabat The Fed maupun dari kondisi perekonomian secara umum, dan itu tidak terjadi,” ujar Kepala Ekonom Santander US Capital Markets LLC, Stephen Stanley.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·