Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) berencana memblokir kapal-kapal nan keluar masuk pelabuhan Iran setelah pembicaraan kedua negara kandas mencapai kesepakatan damai. Langkah ini meningkatkan ketegangan di area dan menakut-nakuti gencatan senjata nan baru melangkah dua pekan.
Presiden Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS bakal mulai melakukan blokade di Selat Hormuz. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut kebijakan itu mulai bertindak Senin pukul 10.00 waktu setempat.
"Blokade bakal diberlakukan secara imparsial terhadap kapal dari semua negara nan masuk alias keluar dari pelabuhan Iran," tulis CENTCOM dalam pernyataannya, seperti dikutip Reuters, Senin (13/4/2026).
Namun, AS memastikan kebebasan navigasi tetap bertindak bagi kapal nan melintas menuju pelabuhan non-Iran. Informasi teknis juga bakal disampaikan kepada pelaut komersial sebelum kebijakan diterapkan.
Trump menegaskan AS bakal bertindak tegas terhadap kapal nan dianggap bayar bea kepada Iran.
"Tidak seorang pun nan bayar bea masuk terlarangan bakal mempunyai jalur kondusif di laut lepas," tulisnya. Ia juga memperingatkan, "Setiap penduduk Iran nan menembak kami alias kapal tenteram bakal dihancurkan."
Ancaman tersebut langsung direspons keras oleh Iran. Garda Revolusi memperingatkan bahwa setiap kapal militer nan mendekati Selat Hormuz bakal dianggap melanggar gencatan senjata.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan negaranya tidak bakal terpengaruh tekanan AS.
"Jika Anda berperang, kami bakal berperang. Jika Anda mengusulkan argumen logis, kami bakal menanggapinya dengan logika," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menilai negosiasi kandas lantaran sikap keras Washington.
"Kami menghadapi maksimalisme, perubahan aturan, dan blokade saat nyaris mencapai kesepakatan," katanya.
Dari pihak AS, Wakil Presiden JD Vance menyebut kegagalan kesepakatan lebih merugikan Iran. "Kabar buruknya kita belum mencapai kesepakatan, dan itu jauh lebih jelek bagi Iran dibanding AS," ujarnya.
Ketegangan ini berakibat langsung ke pasar daya global. Harga minyak bumi melonjak di atas US$100 per barel, setara sekitar Rp1,7 juta. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi sekitar 20% pasokan daya global.
Trump juga mengakui nilai daya berpotensi tetap tinggi hingga pemilu paruh waktu November, nan bisa berakibat politik di dalam negeri AS.
Di sisi lain, Iran menyindir akibat kebijakan tersebut terhadap penduduk AS. Qalibaf apalagi memposting peta nilai bensin di Washington dan menyebut masyarakat bakal merindukan nilai US$4-US$5 per galon (sekitar Rp68.000-Rp85.000).
Meski situasi memanas, Trump tetap membuka kesempatan negosiasi lanjutan. Ia menyebut pembicaraan dengan Iran sebelumnya berjalan "sangat ramah" dan optimistis Teheran bakal kembali ke meja perundingan.
Namun, hingga sekarang kedua negara tetap berbeda soal program nuklir Iran, penghentian pengayaan uranium, serta support Teheran terhadap golongan di kawasan. Kebuntuan ini juga menambah ketidakpastian global, mendorong penguatan dolar AS dan meningkatkan volatilitas pasar dalam beberapa pekan terakhir.
(tfa/tfa)
[Gambas:Video CNBC]
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·