Arkeolog Temukan Lukisan Gua 67.800 Tahun di Sulawesi, Bantah Teori Seni Tertua Eropa

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Arkeolog Temukan Lukisan Gua 67.800 Tahun di Sulawesi, Bantah Teori Seni Tertua Eropa Tim Arkelog meneliti sejumlah lukisan figuratif digambar manusia prasejarah di karst Sulawesi.(Dok. Antara)

TIM arkeolog tengah mendalami temuan luar biasa berupa lukisan figuratif prasejarah nan diperkirakan berumur 67.800 tahun di tembok gua kapur wilayah karst Sulawesi. Temuan ini secara otomatis mematahkan teori lama nan menyebut bahwa tradisi melukis gua tertua berasal dari Eropa.

Lukisan cadas (rock art) tersebut tersebar di beberapa titik strategis, antara lain Leang Maros dan Leang Pangkep di Sulawesi Selatan, serta Liang Metanduno di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Penemuan ini menggunakan metode penanggalan uranium-series nan menunjukkan nomor mencengangkan, ialah sekitar 67,8 milenium.

"Penelitian ini membantah teori nan selama ini kita pelajari melalui buku-buku bahwa lukisan tertua bermulai di Eropa. Itu kemudian terbantahkan," ungkap Peneliti dan Arkeolog Universitas Hasanuddin, Prof Akin Duli, di Makassar, Senin (31/8/2026).

Buku Manual Teknologi Masa Silam

Lukisan nan ditemukan menggunakan bahan dasar oker berwarna merah marun. Objek nan digambarkan meliputi cetakan tangan, jenis hewan, hingga strategi berburu. Menariknya, para peneliti menemukan kejanggalan pada cetakan tangan manusia nan ada; ujung jarinya tidak tumpul, melainkan meruncing menyerupai ceker hewan.

Arkeolog dari BRIN, Budianto Hakim, menjelaskan bahwa modifikasi jari menyerupai ceker hewan tersebut merupakan praktik nan sudah dilakukan oleh manusia modern awal. Ia menilai panel-panel gua ini bukan sekadar coretan estetik, melainkan arsip teknologi dan organisasi sosial.

"Penggambaran ini mempunyai hubungan paralel nan sangat intim dengan langkah manusia memperkuat hidup. Ini adalah bukti sejak 67 milenium lalu, manusia di Nusantara telah mempunyai patokan main mengenai apa nan boleh diburu dan gimana golongan bergerak bersama," jelas Budianto.

Estetika dan Strategi Perburuan

Di situs seperti Bulu Sipong, terlihat jelas segmen perburuan nan sangat terorganisir. Terdapat pola garis tegas nan menghubungkan figur manusia dengan hewan buruan seperti babi rimba dan anoa. Para mahir menyebutnya sebagai strategi 'jari runcing', sebuah teknik pengepungan kolektif.

Peneliti lainnya, Muhamad Nur, menekankan bahwa rasa keelokan alias seni adalah sifat nan inherent (melekat) dalam tubuh manusia, tidak peduli di mana mereka berada. "Teori bahwa keelokan keluar dari Eropa itu nan sebenarnya tergugat. Manusia di mana saja berpotensi melahirkan itu," ujarnya.

Para peneliti memandang adanya benang merah antara lukisan gua purba dengan tradisi masyarakat Bugis-Makassar modern. Hingga saat ini, ritual membikin cap tangan pada tiang rumah baru tetap dilakukan sebagai "penolak bala" alias pagar magis di Sulawesi.

Temuan ini menempatkan manusia di area Wallacea, khususnya Sulawesi, sebagai makhluk nan sudah bisa berpikir absurd secara kompleks dan mempunyai tatanan sosial nan rapi jauh sebelum peradaban serupa tercatat di bagian bumi lain. (Ant/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia