Pemerintah menegaskan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tetap kuat di tengah ketidakpastian global, termasuk tekanan dari kenaikan nilai minyak bumi imbas perang di Iran.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut persepsi positif datang dari penanammodal internasional hingga lembaga global.
“Saya mau menegaskan lagi, kondisi APBN baik. Malah orang-orang sana pada kagum tuh,” ujar Purbaya dalam media briefing di instansi BPPK Purnawarman Kampus, Jakarta Selatan, Jumat (24/4).
Menurut dia, para penanammodal sekarang tak lagi mempertanyakan rumor defisit anggaran Indonesia. Hal serupa juga terjadi dalam komunikasi dengan International Monetary Fund (IMF).
“Jadi penanammodal tuh udah nggak menanyakan lagi di sana masalah defisit dan lain-lain. Clear kata mereka, jadi bule-bule itu bilang clear. IMF juga sama nggak menanyakan tidak menanyakan itu lagi,” katanya.
Meski demikian, IMF tetap memberikan catatan agar pemerintah RI menjaga kebijakan subsidi agar tidak membebani anggaran secara berlebihan.
“Hanya kritiknya adalah gini salah satu, jangan sampai Anda melakukan subsidi nan cost-nya tidak terkendali dan besar sekali,” ujar Purbaya.
Purbaya melanjutkan, pemerintah telah menerapkan subsidi secara lebih terarah, hanya diberikan kepada golongan masyarakat nan betul-betul membutuhkan. Sementara masyarakat bisa tidak lagi menjadi sasaran subsidi.
Menurut Purbaya, pendekatan itu bisa memperkuat kepercayaan dunia bahwa pemerintah mengelola anggaran secara disiplin, bukan dengan kebijakan subsidi tanpa batas.
“Jadi itu memperkuat pandangan luar bahwa kita manage anggaran dengan benar, bukan hanya jor-joran subsidi tanpa batas. Tapi kita batasi untuk orang-orang nan memang betul-betul mampu,” lanjutnya.
Selain itu, pemerintah telah menetapkan dugaan subsidi dengan nilai minyak sebesar USD 100 per barel, sehingga alokasi anggaran dinilai lebih terukur.
“Jadi setelah jawab itu mereka diem, oke berfaedah anggaran kita sekian. Subsidinya sekian udah dipatok dengan hitungan 100 dolar per barel,” ujarnya.
Purbaya juga menilai ketahanan APBN saat ini tidak lepas dari reformasi kebijakan ekonomi nan telah dilakukan sebelumnya oleh Presiden Prabowo Subianto, termasuk pembenahan pajak dan pengelolaan anggaran.
“Saya ciptakan kebijakan Prabowo seperti apa dan reformasi setelah itu termasuk pajak sehingga income kita di 3 bulan pertama naik 20% dibanding tahun lalu,” ujar Purbaya.
“Jadi kita bisa tahan mengalokasi sebagian biaya untuk menambah subsidi APBN tanpa mengganggu terlalu signifikan program-program pembangunan nan lain,” sambungnya.
APBN Maret 2026 Defisit Rp 240,1 T
Dalam laporan paling baru hingga Maret 2026, APBN mengalami defisit sebesar Rp 240,1 triliun. Angka tersebut setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit ini terjadi lantaran realisasi shopping negara melampaui pendapatan nan sukses dihimpun pemerintah. Hingga akhir Maret 2026, pendapatan negara tercatat sebesar Rp 574,9 triliun alias tumbuh 10,5 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, shopping negara mencapai Rp 815 triliun alias melonjak 31,4 persen yoy.
Secara rinci, pendapatan negara ditopang oleh penerimaan pajak sebesar Rp 394,8 triliun nan tumbuh 20,7 persen. Sementara itu, penerimaan dari kepabeanan dan cukai tercatat Rp 67,9 triliun alias turun 12,6 persen, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 112,1 triliun nan juga mengalami penurunan 3 persen.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·