Ilustrasi anak mendengkur.(Dok. Magnific)
MELIHAT anak tertidur lelap sering kali menjadi momen nan menenangkan bagi orang tua. Namun, ketenangan itu terkadang terganggu oleh bunyi dengkuran nan keluar dari napas si kecil. Pertanyaan nan sering muncul kemudian adalah: apakah anak-anak nan mendengkur itu normal?
Secara medis, mendengkur pada anak tidak selalu berfaedah ada masalah kesehatan nan serius, tetapi juga tidak bisa dianggap remeh sepenuhnya. Statistik menunjukkan bahwa sekitar 10% hingga 12% anak-anak sehat mendengkur secara rutin. Namun, membedakan antara dengkuran "biasa" dengan dengkuran nan menjadi indikasi gangguan pernapasan saat tidur adalah kunci untuk menjaga tumbuh kembang anak.
Membedakan Mendengkur Normal dan Tidak Normal
Dengkuran pada anak dapat dikategorikan menjadi dua jenis utama berasas gelombang dan dampaknya terhadap kualitas hidup anak:
- Mendengkur Primer (Habitual Snoring): Ini adalah kondisi di mana anak mendengkur lebih dari tiga malam dalam seminggu, tetapi tidak disertai dengan gangguan pernapasan lain seperti henti napas (apnea) alias gangguan pertukaran gas di paru-paru. Biasanya, ini dianggap relatif tidak rawan selama kualitas tidur anak tetap terjaga.
- Obstructive Sleep Apnea (OSA): Ini adalah kondisi nan lebih serius. Mendengkur merupakan indikasi utama dari OSA, di mana saluran napas anak tersumbat sebagian alias seluruhnya secara berulang selama tidur. Hal ini menyebabkan penurunan kadar oksigen dan gangguan tidur nan parah.
Penyebab Umum Anak Mendengkur
Ada beberapa aspek nan menyebabkan saluran udara anak menyempit sehingga menimbulkan bunyi dengkuran saat mereka bernapas di waktu tidur:
1. Pembesaran Amandel dan Adenoid
Ini adalah penyebab paling umum pada anak-anak. Amandel (tonsil) dan adenoid adalah jaringan limfoid nan membantu melawan infeksi. Jika jaringan ini membengkak alias secara alami berukuran besar, mereka dapat menghalangi aliran udara di tenggorokan dan belakang hidung.
2. Alergi dan Rhinitis
Paparan debu, bulu hewan, alias serbuk sari dapat menyebabkan peradangan pada saluran hidung. Kondisi ini membikin hidung tersumbat, memaksa anak bernapas melalui mulut, nan sering kali memicu bunyi dengkuran.
3. Infeksi Saluran Pernapasan
Pilek, flu, alias jangkitan sinus nan berkarakter sementara dapat menyebabkan pembengkakan pada jaringan di saluran napas. Dalam kasus ini, mendengkur biasanya bakal lenyap dengan sendirinya setelah jangkitan sembuh.
4. Berat Badan Berlebih (Obesitas)
Anak-anak dengan berat badan berlebih mempunyai jaringan lemak ekstra di sekitar leher nan dapat menekan saluran napas saat otot-otot rileks selama tidur, sehingga mempersempit ruang udara.
5. Paparan Asap Rokok
Menjadi perokok pasif dapat mengiritasi saluran napas anak, menyebabkan peradangan kronis nan meningkatkan akibat mendengkur.
Dampak Mendengkur Terhadap Tumbuh Kembang Anak
Jika mendengkur disebabkan oleh gangguan tidur seperti OSA dan tidak ditangani, perihal ini dapat berakibat luas pada kesehatan anak, antara lain:
| Perilaku | Hiperaktif, susah berkonsentrasi (mirip indikasi ADHD), dan mudah marah. |
| Akademik | Penurunan prestasi di sekolah lantaran rasa kantuk berlebih di siang hari. |
| Fisik | Gangguan pertumbuhan lantaran hormon pertumbuhan dilepaskan secara optimal saat tidur nyenyak. |
| Kesehatan Jantung | Risiko tekanan hipertensi dan stres pada sistem kardiovaskular dalam jangka panjang. |
Kapan Orangtua Harus Waspada?
Anda perlu berkonsultasi dengan master ahli anak alias master THT jika dengkuran anak disertai dengan tanda-tanda berikut:
- Dengkuran terjadi nyaris setiap malam dan suaranya sangat keras.
- Anak tampak kesulitan bernapas alias terlihat seperti tercekik saat tidur.
- Ada jarak napas (napas berakhir sejenak lampau diikuti bunyi tersedak).
- Posisi tidur nan tidak biasa (misalnya leher sangat mendongak ke belakang).
- Anak sering mengompol padahal sebelumnya sudah tidak.
- Anak sangat susah dibangunkan alias tetap merasa capek meski sudah tidur lama.
Langkah Penanganan Anak Mendengkur
Penanganan mendengkur pada anak sangat berjuntai pada penyebab dasarnya:
- Observasi: Jika mendengkur ringan dan jarang, master mungkin hanya bakal memantau perkembangannya.
- Pengobatan Alergi: Penggunaan semprotan hidung steroid alias antihistamin jika penyebabnya adalah alergi.
- Operasi (Tonsilektomi/Adenoidektomi): Jika penyebabnya adalah pembesaran amandel alias adenoid nan menghalang napas secara signifikan.
- Manajemen Berat Badan: Perubahan pola makan dan aktivitas bentuk jika obesitas menjadi aspek pemicu.
- CPAP (Continuous Positive Airway Pressure): Dalam kasus OSA nan parah di mana operasi tidak memungkinkan, mesin CPAP dapat digunakan untuk menjaga saluran napas tetap terbuka.
(H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·