Apakah AI Cukup Cerdas Menjadi Wasit Piala Dunia 2026?

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

loading...

NEW YORK - AI menggantikan peran manusia dalam pengambilan banyak keputusan di lapangan. Tetapi ketika Hawk-Eye, VAR, alias sistem offside otomatis melakukan kesalahan, siapa nan bertanggung jawab?

Sebuah "Out" diumumkan di Wimbledon 2025. Pemain tenis Anastasia Pavlyuchenkova segera berakhir bermain, lantaran percaya bola tersebut keluar.

Namun hanya beberapa detik kemudian, wasit mengumumkan bahwa sistem penentuan bola otomatis mengalami kerusakan dan memberikan sinyal pada waktu nan salah. Poin tersebut kudu diulang lantaran tidak ada sistem untuk meninjau situasi tersebut.

Ini bukan sekadar kesalahan teknis. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, turnamen Grand Slam menyaksikan AI menjadi konsentrasi kontroversi. Pertanyaan pun segera muncul: jika pengambil keputusan akhir adalah algoritma, siapa nan bakal bertanggung jawab ketika algoritma tersebut salah?

Dalam waktu kurang dari satu dekade, AI telah menjadi bagian dari sistem perwasitan di banyak bagian olahraga besar.

Dalam sepak bola, VAR menggunakan jaringan kamera nan dikombinasikan dengan teknologi penglihatan komputer untuk menganalisis situasi offside, pelanggaran, alias handball. Di Piala Dunia , FIFA juga menerapkan sistem offside semi-otomatis (SAOT), nan menggabungkan sensor nan ditempatkan di dalam bola dengan puluhan kamera AI untuk melacak pergerakan pemain secara real-time.

.
Dalam tenis, Hawk-Eye nyaris sepenuhnya menggantikan pengadil garis di banyak turnamen besar. Sistem ini menggunakan beberapa kamera berkecepatan tinggi untuk membikin model tiga dimensi dari lintasan bola dan menentukan apakah bola berada di dalam alias di luar pemisah lapangan dengan kecermatan hanya beberapa milimeter.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews