Anomali Ini Bukti Orang Super Tajir Beda dengan Kaum Kelas Menengah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Perlambatan pasar properti residensial rupanya tidak bertindak bagi kalangan tajir. Di saat penjualan rumah menengah hingga bawah sedang lesu, rumah-rumah super premium di area elite justru tetap diburu pembeli.

Bank Indonesia mencatat penjualan properti residensial di pasar primer turun 25,67% secara tahunan pada triwulan I-2026. Pelemahan terutama terjadi di segmen rumah menengah nan mulai terkena tekanan daya beli dan tingginya kehati-hatian konsumen.

Namun kondisi berbeda justru terlihat di area premium seperti BSD dan Gading Serpong. Rumah-rumah dengan nilai dahsyat tetap laku di tengah ekonomi nan belum sepenuhnya pulih.

"Kalau di Banten ini agak anomali. Ada segmen atas di BSD dan Gading Serpong nan harganya belasan miliar sampai double digit," ujar Ketua DPD AREBI Provinsi Banten Vemby kepada CNBC Indonesia, Senin (11/5/2026).

Fenomena tersebut membikin pasar properti kelas atas terlihat bergerak sendiri di tengah lesunya sektor residensial secara umum. Sejumlah proyek rumah mewah apalagi disebut lenyap terjual hanya dalam waktu singkat setelah dipasarkan.

"Di Nava Park BSD apalagi sampai Rp 30 miliar, Rp 80 miliar. Itu malah sigap sold out Pak," lanjutnya.

Menurut Vemby, salah satu aspek nan membikin rumah premium tetap diminati adalah jumlah unit nan memang sangat terbatas. Pengembang sengaja melepas produk secara eksklusif agar tetap menjaga nilai dan daya tarik pasar.

"Unitnya nggak banyak, paling belasan alias 20 unit. Jadi memang limited dan spesial," kata dia.

Ia mengatakan pembeli rumah premium biasanya sudah menunggu proyek tertentu sejak jauh hari. Karena itu, ketika unit mulai dipasarkan, transaksi bisa langsung bergerak sigap meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya stabil.

"Cuman ya itu kan barang-barang gitu keluarnya sedikit-sedikit Pak, hanya setahun paling dua kali kadang-kadang gitu. Nah mungkin mereka ada apa ditunggu-tunggu jugalah gitu jadi ada niche market," ujar Vemby.

Kondisi ini sekaligus menunjukkan, gejolak ekonomi saat ini lebih terasa di golongan menengah dibanding konsumen kelas atas. Pasar rumah premium dinilai tetap ditopang pembeli dengan likuiditas kuat sehingga tidak terlalu sensitif terhadap perlambatan ekonomi.

"Kita juga sempat kaget kok market nan begini uangnya ada aja terus pembeliannya jalan," sambungnya.

Berbeda dengan segmen premium, pasar rumah menengah justru mengalami perlambatan cukup terasa. Konsumen sekarang condong lebih berbilang sebelum membeli properti lantaran tekanan ekonomi dan tingginya biaya hidup.

"Yang segmen lain, menengah sama bawah turun cukup banyak. Terutama segmen tengah nan paling banyak kena," ujar Vemby.

Selain itu, pola pembelian properti juga mulai berubah dalam beberapa tahun terakhir. Investor nan dulu aktif memborong properti perlahan mulai berkurang dan digantikan pembeli untuk kebutuhan tempat tinggal.

"Kalau dulu penanammodal banyak. Sekarang lebih banyak end user, jadi transaksinya nggak secepat dulu," kata dia.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News