loading...
Paru-paru burung menyerap 70% lebih banyak partikel dari manusia. Dalam satu tarikan napas nan sama. Foto: Gemini
JAKARTA - Anjing itu sudah lama di luar. Moncongnya dekat ke tanah. Tapi hari itu nan dihirupnya bukan sekadar udara pagi. Di antara aroma rumput dan aspal ada sesuatu nan lain: partikel lembut serpihan kaca berlapis asam.
Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.
Sejak Jumat malam 4 September 2026, gunung di Selat Sunda itu erupsi terus-menerus. Abu menyebar hingga Banten, Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu. Jabodetabek sudah terdampak. Dan di laman rumah, di pot-pot tanaman, di jalan, di kandang ayam, abu itu sudah ada.
Manusia bisa bilang "saya sesak." Hewan tidak. Abu vulkanik bukan debu rumah tangga. Ia adalah pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik dengan tepi nan tajam. Kandungannya: silika (SiO₂) dominan, ditambah sulfur dioksida, fluorida, masam klorida, arsenik, timbal, kadmium, nikel.
Untuk manusia dewasa sehat, paparan singkat biasanya hanya menyebabkan iritasi sementara. Tapi untuk hewan piaraan di luar rumah, kondisinya berbeda.
Ada tiga aspek pembeda:
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·