Angka Diabetes dan Obesitas Meningkat, Akses Obat Inovatif Diperluas

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Angka Diabetes dan Obesitas Meningkat, Akses Obat Inovatif Diperluas Ilustrasi obesitas(Magnific)

BEBAN penyakit metabolik seperti obesitas dan diabetes terus meningkat. Data International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas 2025 mencatat sebanyak 20,4 juta masyarakat Indonesia berumur 20–79 tahun hidup dengan diabetes. Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi 28,6 juta orang pada 2050.

Di sisi lain, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi obesitas pada orang dewasa telah mencapai 23,4 persen, meningkat signifikan daripada satu dasawarsa sebelumnya. Kedua kondisi tersebut diketahui meningkatkan akibat beragam komplikasi serius, seperti penyakit kardiovaskular dan penyakit ginjal kronis, sekaligus berakibat pada penurunan kualitas hidup pasien.

Presiden Direktur APL, Christophe Piganiol mengatakan pentingnya tirzepatide. Itu merupakan obat agonis reseptor dobel GIP (glucose-dependent insulinotropic polypeptide) dan GLP-1 (glucagon-like peptide-1) untuk penanganan glukosuria melitus jenis 2 dan obesitas.

Menurut APL, peluncuran tirzepatide di Indonesia dapat terealisasi berkah support Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Obat tersebut memperoleh persetujuan izin edar dalam waktu 98 hari kerja, sementara persetujuan indikasi untuk manajemen berat badan kronis diperoleh hanya dalam 42 hari kerja melalui sistem reliance.

Skema percepatan nan mulai diterapkan BPOM sejak 1 Agustus 2025 memungkinkan obat-obatan inovatif nan telah memperoleh persetujuan di negara referensi dan mempunyai arsip komplit diproses dalam waktu sekitar 90 hari kerja. Kebijakan ini diharapkan dapat mempercepat akses pasien terhadap terapi inovatif untuk glukosuria tanpa mengurangi standar keamanan, khasiat, maupun mutu obat.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar menegaskan bahwa setiap produk obat nan mendapatkan izin edar tetap melalui proses pertimbangan ilmiah secara menyeluruh.

"BPOM berkomitmen untuk terus membangun ekosistem izin nan adaptif agar masyarakat Indonesia dapat memperoleh faedah dari penemuan di bagian kesehatan dengan tetap menjunjung tinggi standar keselamatan pasien," ujar Taruna.

Secara ilmiah, tirzepatide bekerja dengan mengaktivasi dua hormon inkretin alami, ialah GIP dan GLP-1. Mekanisme tersebut membantu mengendalikan kadar gula darah, meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi nafsu makan, serta menjaga keseimbangan energi. Pendekatan ini dinilai memberikan faedah nan lebih komprehensif dalam pengelolaan glukosuria melitus jenis 2 maupun obesitas.

Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Em Yunir mengatakan bahwa hasil beragam penelitian klinis menunjukkan efektivitas terapi tersebut.

"Berbagai studi klinis menunjukkan bahwa tirzepatide bisa memberikan kontrol glikemik nan signifikan sekaligus menghasilkan penurunan berat badan nan berfaedah pada pasien glukosuria melitus jenis 2. Kehadiran penemuan ini memperluas pilihan terapi penyakit metabolik sehingga master dapat semakin mempersonalisasi pengobatan berasas karakter klinis dan komplikasinya, serta pedoman praktik klinis nan berlaku," jelasnya. (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia