Ancaman Krisis Makin Berlapis, Kolaborasi Lintas Sektor Penting Perkuat Ketahanan Indonesia

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ancaman Krisis Makin Berlapis, Kolaborasi Lintas Sektor Penting Perkuat Ketahanan Indonesia Ilustrasi(Dok Istimewa)

Berbagai krisis kemanusiaan menunjukkan kerjasama jadi bagian krusial dalam setiap respons. Perubahan iklim, pengungsian, keterbatasan jasa dasar, hingga tantangan pendanaan terus memengaruhi kehidupan banyak masyarakat. Situasi ini mendorong beragam pihak memperkuat koordinasi agar respons kemanusiaan melangkah lebih efektif.

Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam forum Humanitarian Update berjudul Krisis Kemanusiaan Hari Ini: Apa nan Terjadi & Bagaimana Kita Merespons Bersama? nan digelar Human Initiative dalam rangka memperingati World Humanitarian Day 2026.

Forum ini mempertemukan organisasi kemanusiaan, lembaga filantropi, pemerintah, akademisi, dan beragam mitra untuk membahas perkembangan tantangan kemanusiaan serta mencari penguatan pola kerjasama dalam merespons krisis di Indonesia.

Vice President of Organizational Services & Development Human Initiative Andjar Radite mengatakan setiap krisis pada akhirnya selalu berakibat langsung terhadap kehidupan manusia.

Karena itu, respons kemanusiaan tidak cukup hanya berorientasi pada kecepatan pengedaran bantuan, tetapi juga kudu memastikan masyarakat terdampak tetap mendapatkan perlindungan dan diperlakukan bermartabat.
Menurut dia, kualitas respons kemanusiaan juga ditentukan ketepatan sasaran, keamanan, inklusivitas, dan akuntabilitas dalam setiap proses penanganan.

“Kita mungkin tidak bisa mencegah seluruh krisis, namun kita dapat memastikan masyarakat terdampak tidak menghadapinya sendiri. Kita mungkin tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan dalam satu forum, namun kita dapat memulai langkah lebih terkoordinasi, lebih berani, dan lebih manusiawi,” ujar Andjar.

Pada sesi keynote speech, Head of OCHA Liaison Office to ASEAN Ronaldo G Reario menyoroti meningkatnya kebutuhan kemanusiaan, akibat perubahan iklim, keterbatasan pendanaan, serta tantangan menjangkau masyarakat terdampak. Menurutnya, kondisi tersebut menuntut kerja sama nan semakin erat.

"Tidak ada satu organisasi pun nan dapat menangani krisis kemanusiaan sendirian. Kolaborasi menjadi landasan utama bagi respons kemanusiaan nan efektif di tingkat nasional dan internasional," kata dia.

Diskusi panel menghadirkan Direktur Eksekutif Humanitarian Forum Indonesia (HFI) Widowati, Plt Direktur Eksekutif Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) Rully Amrullah, serta Direktur Eksekutif Aliansi Pembangunan Kemanusiaan Indonesia (AP KI) sekaligus Manager Humanitarian Diplomacy & Advocacy Human Initiative Muhammad Kaimuddin.

Widowati menggarisbawahi pentingnya membangun kerjasama sebelum krisis terjadi. Jejaring antarlembaga membantu memperjelas koordinasi dan memperkuat peran organisasi lokal dalam setiap tahapan respons.

Rully Amrullah memandang filantropi tidak hanya menghimpun sumber daya, tetapi juga memperkuat kemitraan antara organisasi masyarakat, bumi usaha, akademisi, dan komunitas. Kolaborasi tersebut dapat memperluas jangkauan program sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat.

Adapun Muhammad Kaimuddin mengangkat rumor polycrisis, ialah beragam krisis nan terjadi secara berbarengan dan saling memengaruhi. Ia mendorong penguatan organisasi lokal, pemanfaatan teknologi, penggunaan data, serta kerjasama lintas sektor agar setiap pihak dapat berkontribusi sesuai kapasitasnya.

Forum ini menegaskan respons kemanusiaan memerlukan kerjasama banyak pihak. Organisasi kemanusiaan, pemerintah, bumi usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat perlu saling melengkapi agar semakin banyak masyarakat nan dapat dijangkau.(H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia