Ancaman Karhutla pada Lukisan Purba Tertua Dunia di Maros-Pangkep

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Ancaman Karhutla pada Lukisan Purba Tertua Dunia di Maros-Pangkep Peneliti menunjukkan gambar lukisan cadas buatan manusia purba pada tembok gua pada situs prasejarah nan terancam rusak akibat kebakaran rimba dan lahan di wilayah Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.(Dokumentasi pribadi Arkeolog Basran Burhan.)

KAWASAN karst Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung di Sulawesi Selatan sekarang tengah menghadapi ancaman serius nan melampaui kerusakan ekosistem hutan. Kebakaran rimba dan lahan (karhutla) nan terus meluas di wilayah Kabupaten Pangkep dilaporkan menakut-nakuti keberadaan lukisan gua (gambar cadas) tertua di bumi nan menjadi warisan tak ternilai peradaban manusia.

Arkeolog dari Griffith University Australia, Basran Burhan, memperingatkan bahwa situs-situs prasejarah ini berada dalam akibat kerusakan permanen. Sebagai peneliti nan telah bertahun-tahun mendalami area Maros-Pangkep, dia menekankan bahwa akibat destruktif api dapat menghapus jejak sejarah nan telah memperkuat selama puluhan ribu tahun.

"Kebakaran nan terjadi di area situs arkeologi terutama nan menyimpan gambar cadas terancam rusak jika kebakaran tidak dipadamkan," kata Arkeolog dari Griffith University, Australia Basran Burhan merespons karhutla di wilayah Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Jumat.

Dua Ancaman Utama: Panas Ekstrem dan Jelaga

Menurut Basran, ada dua sistem utama gimana kebakaran rimba dapat merusak lukisan purba, apalagi jika lidah api tidak menyentuh tembok gua secara langsung:

  1. Ekspansi Termal dan Retakan Mikro: Batuan gamping (karst) nan menjadi medium lukisan telah berada dalam kondisi stabil selama ribuan tahun. Perubahan suhu nan drastis akibat panas ekstrem di sekitar mulut gua menyebabkan tekanan termal pada batuan. Hal ini memicu munculnya retakan mikro nan dapat merambat hingga ke lapisan pigmen lukisan, mengakibatkan pengelupasan masif nan tidak dapat dipulihkan.
  2. Kontaminasi Jelaga dan Asap: Asap tebal dari karhutla membawa partikel karbon nan tinggi. Partikel ini bakal menempel pada permukaan tembok gua dan membentuk lapisan jelaga. "Ini seperti selimut hitam nan menutupi perincian lukisan. Kita bakal susah memandang corak gambar dan warna original dari pigmennya," jelas Basran.

Catatan Arkeologis: Kawasan Maros-Pangkep merupakan galeri seni terbuka tertua di dunia. Di dinding-dinding gua ini, manusia purba menggoreskan gambar babi rusa dan cap tangan nan berumur lebih dari 45.000 tahun, lebih tua dibandingkan lukisan gua Lascaux di Prancis.

Ironi Konservasi dan Perubahan Iklim Mikro

Ancaman karhutla ini menjadi pukulan telak bagi upaya konservasi nan selama ini dilakukan dengan sangat ketat. Balai Pelestarian Kebudayaan Sulsel sebelumnya telah menerapkan patokan pembatasan visitor maksimal lima orang per gua guna menjaga stabilitas suhu dan kelembapan.

Basran menegaskan bahwa jika suhu tubuh manusia saja dianggap dapat memengaruhi kelestarian lukisan dalam jangka panjang, maka panas dari kebakaran rimba adalah musibah skala besar bagi suasana mikro gua. Kerusakan nan terjadi bukan sekadar persoalan hilangnya vegetasi, melainkan rusaknya arsip sejarah manusia purba.

Data Kebakaran di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung

Berdasarkan info dari Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, eskalasi kebakaran menunjukkan tren nan mengkhawatirkan dalam waktu singkat:

Tanggal Luas Lahan Terbakar Lokasi Awal
11 Oktober (21.00 WITA) Informasi Awal Kel. Kassi, Kec. Balocci, Pangkep
12 Oktober 34,74 Hektare Kawasan Karst
15 Oktober 93,43 Hektare Kawasan Karst

Kepala Balai Taman Nasional, Abdul Rajab, mengonfirmasi bahwa api tidak hanya merusak vegetasi hingga ke puncak karst, tetapi juga menakut-nakuti kediaman satwa endemik nan dilindungi serta keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.

Kesimpulan dan Langkah Mendesak

Kehilangan lukisan gua di Maros-Pangkep berfaedah kehilangan identitas sejarah dunia. Diperlukan langkah pemadaman nan lebih masif dan strategis, terutama di titik-titik nan berdekatan dengan situs arkeologi. Perlindungan terhadap area karst ini tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai rumor lingkungan biasa, melainkan upaya pengamanan warisan budaya bumi (World Heritage).

FAQ: Dampak Karhutla terhadap Situs Prasejarah

  • Mengapa lukisan gua di Sulsel begitu penting? Karena merupakan salah satu bukti tertua produktivitas manusia (seni cadas) di dunia, dengan usia mencapai 45.000 tahun lebih.
  • Apakah lukisan bisa dibersihkan dari jelaga? Proses pembersihan sangat berisiko lantaran pigmen lukisan purba sangat rentan dan bisa ikut terangkat saat pembersihan dilakukan.
  • Apa itu ekspansi termal pada batuan? Kondisi di mana batuan memuai akibat panas ekstrem, nan pada batuan gamping dapat menyebabkan keretakan dan pengelupasan permukaan.
  • Bagaimana pengaruh asap terhadap gua? Asap mengubah komposisi kimiawi di permukaan tembok gua dan merusak stabilitas kelembapan nan dibutuhkan untuk menjaga keawetan pigmen alami.
  • Siapa nan mengelola situs ini? Balai Pelestarian Kebudayaan Sulsel dan Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.
  • Apakah visitor tetap diperbolehkan masuk? Saat ini akses sangat dibatasi untuk menjaga suhu lokal, namun kondisi karhutla dapat menutup akses sepenuhnya demi keamanan.
Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑