Ancaman Baru! Harga Barang-barang di RI dan Tetangga Diramal Bakal Naik

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia-AMRO memperkirakan harga-harga peralatan dan jasa di area ASEAN+3 bakal meningkat sebagai akibat dari bentrok di Timur Tengah nan lebih berkepanjangan. Ini mendorong proyeksi inflasi menjadi 1,8% dari sebelumnya 1,4% pada 2026.

Sementara itu pertumbuhan ekonomi diperkirakan 4%, sama seperti proyeksi sebelumnya.

"Pertumbuhan ASEAN+3 tetap tangguh, didukung oleh kuatnya permintaan domestik dan ekspor teknologi. Namun, tanda-tanda awal tekanan mulai muncul," kata Kepala Ekonom AMRO, Dong He dalam siaran pers, Selasa (2/6/2026).

"Kenaikan biaya daya dan transportasi mulai mendorong inflasi serta menambah tekanan pada rantai pasok industri. Jika bentrok berlanjut, tekanan ini dapat meluas dan membebani pertumbuhan kawasan."

Konflik Timur Tengah sudah memasuki bulan keempat, jauh lebih lama dari perkiraan awal nan memperkirakan penyelesaian dalam waktu dua bulan. Biaya energi, komoditas, dan logistik melonjak dan tetap tinggi, sementara pasokan produk minyak bumi semakin ketat.

Tanda-tanda awal gangguan juga mulai terlihat pada pasokan bahan baku industri, termasuk helium, sulfur, dan pupuk, meskipun sejauh ini dislokasi pasar secara luas tetap dapat dihindari.

Meski pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama lebih kuat dari perkiraan, akibat penuh bentrok Timur Tengah belum sepenuhnya terasa. Kenaikan biaya daya dan bahan baku industri, ditambah ketidakpastian mengenai tarif perdagangan nan tetap berlanjut, diperkirakan bakal mempengaruhi negara-negara di area secara berbeda. Negara pengimpor daya bersih dan ekonomi nan berjuntai pada bahan baku terdampak diperkirakan menghadapi tekanan nan lebih besar.

Durasi dan tingkat keparahan bentrok Timur Tengah tetap menjadi akibat jangka pendek paling signifikan bagi prospek ekonomi kawasan. Dalam skenario nan lebih buruk, ketika nilai minyak rata-rata mencapai US$125 per barel pada 2026-dibandingkan dugaan dasar sebesar US$95 per barel-serta gangguan pasokan semakin memburuk, pertumbuhan ASEAN+3 dapat melambat menjadi 2,5%, sementara inflasi berpotensi naik hingga 3,5%.

Di luar periode pandemi COVID-19, kondisi tersebut bakal menjadi tingkat inflasi regional tertinggi dalam lebih dari satu dasawarsa sekaligus pertumbuhan ekonomi paling lambat sejak krisis finansial Asia.

"Dalam situasi seperti ini, respons kebijakan kudu tetap lincah dan adaptif mengikuti perkembangan guncangan nan terjadi," tambah He. "Dukungan jangka pendek perlu berkarakter terarah dan sementara, sementara upaya jangka panjang kudu difokuskan pada penguatan ketahanan energi, ketahanan rantai pasok, dan integrasi regional."

(mij/mij)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News