Analis: Rating S&P Jadi Kejutan Namun Perlu Dibaca Secara Tepat

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
 Rating S&P Jadi Kejutan Namun Perlu Dibaca Secara Tepat Angin segar dari S&P Global Ratings bukan berfaedah tekanan struktural sudah selesai, tetap terdapat beberapa sinyal nan bakal datang dan patut diperhatikan.(Istimewa)

HENNAN Putihrai Sekuritas dan Henan Putihrai Asset Management menilai rilis S&P Global Ratings nan menempatkan ranking angsuran negara (sovereign rating) Indonesia di BBB dengan outlook Stable sebagai sebuah kejutan di tengah sentimen kehati-hatian nan dikeluarkan tiga lembaga indeks global, ialah S&P Dow Jones Indices (S&P DJI), FTSE Russell, dan MSCI.

"Jujur saja, kami tidak berencana menerbitkan tulisan baru secepat ini. Hanya beberapa hari lampau kami menerbitkan tulisan dengan sentimen nan hati-hati: tiga penyedia indeks dunia memberikan sinyal kehati-hatian dalam waktu berdekatan, IHSG menutup di level terendah sejak memantul dari dasar pasar, dan rupiah kembali menembus Rp18.000 pada 10 Juli 2026," tulis Hennan Putihrai Sekuritas dan Henan Putihrai Asset Management dalam riset terbaru mereka. 

Dalam riset sebelumnya, Hennan Putihrai Sekuritas dan Henan Putihrai Asset Management menyebut S&P Global Ratings bakal menjadi sinyal berikutnya nan perlu diperhatikan, dengan ekspektasi bakal datang di akhir bulan Juli. Namun rupanya pengumuman nan disebut telah datang lebih cepat, dan hasilnya lebih konstruktif dari nan ditakutkan banyak pihak.

Pada 13 Juli 2026, S&P Global Ratings mengumumkan bahwa ranking angsuran negara (sovereign rating) Indonesia dipertahankan di BBB dengan outlook Stable (tidak ada downgrade dan tidak ada perubahan outlook). Pada sore itu, IHSG pun langsung merespons dengan level penutupan tertinggi sejak akhir Juni pada level 6.037,84.

"Terlalu awal untuk menyimpulkan apakah pengumuman ini bakal menjadi titik kembali jangka panjang. Tapi mempertimbangkan beberapa perusahaan ranking angsuran lainnya seperti Moody’s dan Fitch pada awal tahun, keputusan S&P untuk mempertahankan rating itu menjadi sinyal nan berlawanan arus, dan berkedudukan besar dalam memberi angan besar sejak tekanan nan dialami dari bulan Januari," tulis Hennan Putihrai Sekuritas dan Henan Putihrai Asset Management.

Dalam laporannya, S&P secara definitif menjelaskan bahwa kondisi Indonesia sedang tidak mudah: fiskal tertekan, rupiah melemah, biaya kembang utang di atas periode nan mereka anggap nyaman, dan pasar finansial nan kehilangan lebih dari 30% kapitalisasi selama semester pertama 2026. Sementara, nan membikin S&P mempertahankan rating terhadap Indonesia adalah argumen bahwa tekanan-tekanan ini berkarakter sementara. 

Jika dilihat ke fondasinya, pertumbuhan ekonomi riil tetap solid di 5,6% pada Q1 2026, penerimaan negara naik 21 persen di semester pertama, komitmen pemerintah terhadap pemisah defisit 3 persen dari PDB dinilai tetap terjaga, dan S&P memandang kemungkinan bahwa nilai komoditas nan lebih tinggi dan langkah efisiensi shopping bakal memberi ruang pemulihan fiskal ke depan.

Meski S&P memberi benefit of the doubt terhadap tekanan nan dinilai berkarakter sementara, mereka juga menyebut tiga aspek nan perlu diwaspadai lantaran dapat mendorong Indonesia ke arah downgrade, ialah utang pemerintah neto naik konsisten lebih dari 3 persen dari PDB per tahun, kembang utang memperkuat di atas 15 persen dari penerimaan negara (kondisi nan sudah terjadi dan diperkirakan bersambung hingga 2027), dan penerimaan ekspor melambat secara struktural hingga kebutuhan pembiayaan eksternal melampaui persediaan devisa dan penerimaan transaksi berjalan. Artinya, rating BBB Stable nan diberikan bukan berfaedah kondusif sepenuhnya, lebih ke penilaian bahwa situasi saat ini tetap bisa pulih, bukan bahwa situasinya sudah baik secara konsisten.

"Sejak tulisan pertama, kami menetapkan bahwa tujuan rangkaian tulisan adalah untuk memandu penanammodal dalam memahami gimana beragam sinyal berpengaruh terhadap perkembangan siklus pasar nan sedang berjalan, berasas info dan keahlian siklus masa lalu," sebut Hennan Putihrai Sekuritas dan Henan Putihrai Asset Management. 

Pengumuman S&P Global Ratings ini menjadi salah satu sinyal nan memberikan pengarahan nan paling jelas sejak awal tahun. Konsekuensi reaktif nan terlihat pada pasar modal juga merupakan tren paling positif nan terlihat sejauh ini.

Namun angin segar ini bukan berfaedah tekanan struktural sudah selesai, tetap terdapat beberapa sinyal nan bakal datang dan patut diperhatikan. MSCI nan memberlakukan 'probasi' hingga November, S&P DJI nan meletakkan pasar modal dalam watchlist, maupun FTSE Annual Review nan bakal datang pada Oktober, tetap menjadi tenggat nan kudu dilewati.

"Di luar tenggat penyedia indeks tersebut, perihal nan menurut kami paling patut dipahami adalah karakter dari pemulihan itu sendiri, ada dimensi nan perlu dibedakan antara S&P Global Ratings dan penyedia indeks, di mana S&P menilai keahlian dan kemauan pemerintah untuk mengelola kondisi fiskal dan moneter, sementara MSCI, FTSE Russell, dan S&P DJI menilai aksesibilitas pasar modal," tulis Hennan Putihrai Sekuritas dan Henan Putihrai Asset Management.

Kenaikan IHSG saat ini tetap ditopang likuiditas domestik, bukan kembalinya modal asing, terlihat dari urutan nan justru terbalik: pada 13 Juli IHSG melonjak, tetapi pada hari nan sama SBN dijual dan rupiah belum beranjak dari kisaran Rp18.131, padahal pemulihan nan sehat sebagaimana disebutkan di rangkaian artikel, biasanya dimulai dari rupiah nan stabil, diikuti arah BI rate nan berbalik menuju pemangkasan nan mendukung kembalinya modal asing ke SBN, dan terakhir ekuitas. Selama rupiah belum stabil dan arus asing belum benar-benar kembali, penguatan ini tetap rentan kehilangan momentum. 

Kerentanan ini sejalan dengan pengingat dari S&P bahwa laju perubahan kebijakan dan ketidakpastian penerapan dapat memengaruhi kepercayaan penanammodal serta membebani nilai tukar dan pasar keuangan.Perbedaan itu krusial untuk dipahami penanammodal dalam memposisikan diri. 

S&P mengonfirmasi Indonesia tidak sedang berada di tengah krisis angsuran negara lantaran tetap bisa bayar kewajibannya, tapi bukan berfaedah tanpa risiko. Masih ada tiga aspek pemicu nan perlu diwaspadai, sekaligus menjadi pengingat bahwa kepantasan angsuran kudu dikelola secara aktif. Hal ini, berbarengan dengan hasil penilaian nan positif dari penyedia indeks ke depan, mempunyai peran dalam menentukan kecepatan pemulihan pasar kali ini.

IHSG nan ditutup di 6.037,84 pada 13 Juli 2026 adalah info pertama nan menunjukkan arah berbeda setelah tekanan sejak akhir Juni. Satu hari belum membentuk tren, tapi layak dicatat sebagai titik referensi. Masih dibutuhkan pertumbuhan sekitar 19,7% dari posisi hari ini sebelum arah pemulihan betul-betul terlihat. (E-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia