Anak pertama adalah kebanggaan nan dirayakan, anak terakhir adalah kesayangan nan dijaga. Lalu, di mana posisi anak tengah? Bagi banyak orang nan merasakannya, jawabannya sering kali pahit: Anak tengah adalah sosok nan ada secara fisik, tapi sering kali "tak terlihat" secara emosional
Kita lahir di saat euforia "anak pertama" sudah mulai hambar, namun perhatian belum sepenuhnya beranjak ke "si bungsu" yang dianggap paling butuh perlindungan. Sejak kecil, anak tengah seolah-olah diprogram untuk menjadi penonton di rumahnya sendiri. Kita belajar untuk berdikari bukan lantaran kita kuat, tapi lantaran kita sadar bahwa meminta perhatian adalah perihal nan sia-sia di tengah meja makan nan sudah penuh dengan urusan kerabat nan lain.
Anak tengah sering kali menjadi "baut" yang menjaga mesin family tetap berjalan, tapi paling jarang diberi pelumas. Kita adalah penengah saat kakak-adik bertengkar, pendengar nan baik saat orang tua lelah, tapi sering kali menjadi orang terakhir nan ditanya, "Kamu sendiri, gimana kabarnya?"
Dampaknya, kita tumbuh menjadi pribadi nan paling jago memendam perasaan. Kita menjadi "si paling nggak apa-apa" karena kita tahu, jika kita kenapa-napa, itu hanya bakal menambah beban rumah. Kita merasa seperti pelengkap kuota keluarga—penting untuk ada di dalam foto, tapi suaranya jarang jadi penentu keputusan.
Banyak anak tengah nan akhirnya menjadi sangat vokal alias ambisius di luar rumah. Itu bukan sekadar mengejar prestasi, tapi sebuah jeritan bawah sadar: "Lihat, saya juga bisa jadi pemeran utama!" Kita berjuang mati-matian di bumi luar hanya lantaran kita merasa tidak punya panggung di dalam rumah sendiri.
Menjadi anak tengah adalah tentang berbaikan dengan rasa sunyi di tengah keramaian. Kita tidak butuh perlakuan spesial, kita hanya butuh untuk betul-betul dilihat. Dilihat sebagai individu, bukan sekadar penyeimbang antara si sulung dan si bungsu.
Jangan sampai kemandirian nan dibanggakan orang tua dari anak tengah sebenarnya adalah langkah mereka untuk memperkuat hidup lantaran merasa tidak punya tempat untuk bersandar. Karena pada akhirnya, tidak ada nan lebih menyakitkan daripada merasa menjadi orang asing di dalam family sendiri.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·