Anak Perokok Pasif Lebih Rentan Terkena TBC, ini Faktor Risikonya

Sedang Trending 10 jam yang lalu
Anak Perokok Pasif Lebih Rentan Terkena TBC, ini Faktor Risikonya Ilustrasi(magnifik)

Tuberkulosis (TBC) tetap menjadi salah satu penyakit menular nan menjadi perhatian serius di Indonesia. Penyakit nan disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis ini umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyebar ke organ tubuh lainnya. Pada anak-anak, TBC sering kali susah dikenali lantaran gejalanya tidak unik dan menyerupai penyakit jangkitan lainnya.

Berdasarkan info dari laman Kementerian Kesehatan, terdapat beragam aspek nan dapat meningkatkan akibat seorang anak mengalami TBC. Selain riwayat kontak dengan penderita TBC, status gizi nan buruk, usia, dan kondisi lingkungan, paparan asap rokok juga menjadi salah satu aspek nan berkedudukan penting.

Anak Perokok Pasif Lebih Rentan Terkena TBC

Anak nan sering menghirup asap rokok alias menjadi perokok pasif mempunyai akibat lebih tinggi mengalami TBC aktif. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa unsur rawan nan terkandung dalam asap rokok dapat merusak sistem pertahanan saluran pernapasan serta menurunkan keahlian tubuh dalam melawan infeksi.

Ketika daya tahan tubuh melemah, kuman penyebab TBC bakal lebih mudah berkembang biak dan menimbulkan penyakit. Risiko ini menjadi semakin besar andaikan anak tinggal serumah dengan penderita TBC alias berada di lingkungan dengan nomor penularan nan tinggi.

Balita Menjadi Kelompok nan Paling Berisiko

Anak berumur di bawah lima tahun merupakan golongan nan paling rentan mengalami TBC setelah terpapar kuman penyebab penyakit tersebut. Bahkan, anak usia di bawah dua tahun mempunyai akibat sekitar 30–40 persen mengalami TBC progresif primer dalam satu tahun setelah infeksi.

Hal ini disebabkan lantaran sistem kekebalan tubuh balita belum berkembang secara optimal. Akibatnya, kuman lebih mudah menyebar melalui aliran darah ke beragam organ tubuh dan menyebabkan komplikasi serius, seperti meningitis tuberkulosis maupun TBC milier.

Kondisi Tempat Tinggal

Selain asap rokok, kondisi tempat tinggal juga memengaruhi akibat anak terpapar TBC. Rumah nan dihuni banyak orang dengan ventilasi nan kurang baik dapat meningkatkan kesempatan penyebaran kuman lantaran hubungan antarpenghuni berjalan lebih intens.

Kepadatan penunggu rumah juga berpengaruh terhadap kemungkinan anak melakukan kontak erat dengan penderita TBC. Risiko menjadi lebih tinggi andaikan personil family tidur dalam satu ruangan alias mempunyai kebiasaan berkumpul di ruang tertutup dengan sirkulasi udara nan buruk.

Di sisi lain, anak nan telah memasuki usia sekolah umumnya mempunyai aktivitas sosial lebih luas sehingga lebih sering berinteraksi dengan orang dewasa maupun kawan sebaya. Kondisi tersebut membikin kesempatan mereka terpapar sumber jangkitan menjadi semakin besar dibandingkan anak usia prasekolah.

Status gizi juga menjadi aspek krusial dalam pencegahan TBC pada anak. Malnutrisi dapat menurunkan sistem imun sehingga tubuh lebih mudah terinfeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebaliknya, TBC sendiri sering menyebabkan penurunan berat badan nan memperburuk kondisi gizi anak.

Kondisi ini dapat membentuk siklus nan saling memengaruhi. Anak dengan gizi jelek lebih mudah terserang TBC, sementara TBC nan tidak segera ditangani dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan hingga kandas tumbuh.

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan TBC pada anak adalah gejalanya nan tidak spesifik. Anak umumnya mengalami demam berkepanjangan, penurunan berat badan, nafsu makan menurun, alias jangkitan saluran pernapasan nan berulang. Keluhan tersebut sering kali menyerupai penyakit lain sehingga pemeriksaan TBC menjadi lebih sulit.

Sebagian besar kasus TBC pada anak justru ditemukan melalui pemeriksaan uji tuberkulin secara rutin. Sementara itu, sebagian lainnya baru terdiagnosis ketika penyakit telah berkembang menjadi lebih berat alias muncul kecurigaan lantaran adanya riwayat kontak erat dengan penderita TBC.

Pencegahan Dimulai dari Rumah

Pencegahan TBC pada anak tidak hanya dilakukan dengan imunisasi dan penemuan dini, tetapi juga melalui pembuatan lingkungan rumah nan sehat. Orang tua diharapkan tidak merokok di dalam rumah maupun di sekitar anak agar mereka tidak menjadi perokok pasif.

Selain itu, menjaga kecukupan gizi, memastikan ventilasi rumah nan baik, mengurangi kepadatan kediaman jika memungkinkan, serta segera memeriksakan anak andaikan mengalami indikasi nan mengarah pada TBC merupakan langkah krusial untuk menekan akibat penularan.

Melindungi anak dari paparan asap rokok bukan hanya membantu menjaga kesehatan paru-paru mereka, tetapi juga menjadi salah satu upaya krusial dalam mencegah tuberkulosis. Dengan penemuan dini, lingkungan nan sehat, dan kepedulian seluruh personil keluarga, akibat TBC pada anak dapat dikurangi sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Sumber: Kemenkes

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia