loading...
Survei mencatat 60% penanammodal mata uang digital berumur 18-34 tahun, tertarik lantaran transaksi 24 jam sepekan penuh dan modal masuk minimal Rp11 ribu. Foto: ist
JAKARTA - Investasi bukan lagi soal nanti-nanti. Praktisi pasar modal menegaskan, generasi muda kudu mulai berinvestasi sejak awal lantaran waktu adalah aset nan tak bisa dibeli ulang. Kripto alias saham nan lebih cocok? Jawabannya bukan salah satu, melainkan memahami karakter masing-masing.
Kripto: Modal Kecil, Pasar Tak Pernah Tidur
Presiden Direktur Pintu, Andy Putra, menyebut mata uang digital sebagai aset favorit generasi muda. Survei mencatat 60% penanammodal mata uang digital berumur 18-34 tahun, tertarik lantaran transaksi 24 jam sepekan penuh dan modal masuk minimal Rp11 ribu.
Soal cuan, Andy mencontohkan Bitcoin nan pada 2010 hanya Rp73, sekarang menyentuh Rp1,1 miliar per koin. "Orang nan tetap memegang BTC sejak 2010 pasti dapat jackpot," ujar dia. Kripto sudah diregulasi OJK sejak 2025, bebas PPN saat beli dan kena PPN final saat jual. Transaksi mata uang digital nasional tahun lampau tembus Rp480 triliun, dengan tren baru seperti tokenisasi properti.
Saham: Bukti Kepemilikan Bisnis dengan Rekam Jejak Nyata
Komisaris PT Aldicitra Sekuritas sekaligus asesor pekerjaan pasar modal, Vier Abdul Jamal, mendorong anak muda tak melupakan saham. Dia mencontohkan IPO saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada 2000 di nilai Rp1.400, dengan nilai investasi 10 lot saat itu Rp1,4 juta. Setelah stock split 2001 dan 2021, capital gain BBCA sekarang mencapai 3.989%.
Contoh lain, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sejak IPO 2023 mencatat capital gain 296%, alias 98% per tahun — jauh melampaui rata-rata inflasi 10 tahun sebesar 2,8%, apalagi puncaknya di 2022 nan mencapai 4,21%.
Menurut Vier, saham adalah kepemilikan upaya dengan akibat nyata dan transparan, berbeda dari gambling online (judol) nan secara matematis dirancang menguntungkan operator. Di AS dan Eropa, investasi jadi kebutuhan sejak usia 20-an lewat compounding dan dollar cost averaging. Di Indonesia, orientasi jangka pendek tetap dominan. "Penurunan mini sering memicu kepanikan. Banyak penanammodal baru menjual saat nilai turun dan membeli saat nilai naik," ujarnya.
Inflasi Tak Kenal Ampun
Asesor pekerjaan pasar modal, B. Hari Mantoro, mengingatkan biaya kas nan hanya disimpan bakal tergerus inflasi. Contohnya, Toyota Kijang Super Chassis pada 1991 seharga Rp24,5 juta, sementara 34 tahun kemudian, pada 2026, jenis penerusnya, Innova Zenix, sudah Rp438 juta, naik 17,8 kali lipat.
"Generasi muda diimbau segera beranjak dari budaya menabung ke budaya berinvestasi," kata Hari. Senada, Direktur Utama PT Smartin Advisor System (SAS), Odang Supriatna, mau mendorong mahasiswa naik level jadi ahli keuangan, mulai dari coder EA & AI trading hingga smart investor.
Keamanan Digital dan Literasi Jadi Fondasi
President Director PT ITSEC Asia Tbk, Patrick Dannacher, menyoroti pentingnya ekosistem investasi digital nan kondusif lewat kerja sama dengan perbankan, fintech, dan sekuritas, termasuk platform Bronyx.ai.
"Keamanan siber tidak hanya melindungi sistem, tetapi juga menjaga kepercayaan investor," kata dia. Direktur Human Capital & Compliance BNI, Mucharom, menyebut literasi finansial sebagai fondasi kesejahteraan finansial. Survei OJK 2022 mencatat indeks literasi finansial Indonesia tetap di bawah 50%, meski meningkat signifikan dibanding 2019.
Diskusi berjudul Menangkap Peluang Investasi Saham, Kripto, dan Komoditas ini digelar Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Nagekeo (Himapen) di Jakarta, Rabu (6/7/2026), dipandu wartawan senior Edo Rusyanto.
Kesimpulan: Bukan Pilih Salah Satu
Kripto unggul di modal mini dan aksesibilitas 24 jam. Saham unggul di rekam jejak historis dan kepemilikan upaya nyata. Keduanya mengalahkan kembang tabungan dan inflasi, asal lewat instrumen legal, bukan judol.
FAQ
Kripto alias saham, mana lebih cocok untuk pemula?
Kripto modal mini mulai Rp11 ribu dengan pasar 24 jam. Saham menawarkan kepemilikan upaya nyata dengan rekam jejak seperti BBCA dan BREN.
Apakah mata uang digital sudah legal di Indonesia?
Sudah, diregulasi OJK sejak 2025, bebas PPN saat beli dan PPN final saat jual.
Kenapa investasi lebih baik dari menabung?
Bunga tabungan tak mengejar inflasi, sementara saham dan mata uang digital historisnya jauh melampauinya.
(dan)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·