Melihat kasus seorang siswa berumur 15 tahun di Kutai Kartanegara nan tetap duduk di bangku sekolah dasar dengan persoalan kesulitan membaca tentunya mengejutkan banyak pihak. Persoalan siswa kesulitan literasi nan signifikan—terutama dalam keahlian membaca—membuat Dinas Pendidikan meminta adanya pendampingan khusus.
Permasalahnnya mungkin terlihat sederhana sebagai keterlambatan biasa. Namun tidak sesederhana itu. Persoalannya jauh lebih kompleks, bukan sekadar soal tertinggal pelajaran, melainkan juga menyangkut fondasi belajar nan sejak awal tidak terbentuk dengan baik.
Dalam konteks Pendidikan, keahlian membaca tidak hanya soal mengenali huruf. Ada proses krusial nan disebut automaticity, ialah keahlian mengenali kata secara otomatis tanpa kudu mengeja. Pada siswa dalam kasus ini, terlihat bahwa proses tersebut belum terjadi. Ia tetap kudu mengeja kata demi kata, nan membikin proses membaca menjadi sangat lambat.
Menurut John Hattie, ketika kecepatan membaca terlalu rendah, pemahaman terhadap isi referensi bakal ikut terganggu. Artinya, bukan hanya siswa tidak memahami pelajaran; dia memang belum sampai pada tahap bisa memahami. Selain itu permasalahannya dilihat dari langkah kerja otak.
Dalam ilmu jiwa kognitif, dikenal konsep cognitive load alias beban kognitif. Pada siswa ini, nyaris seluruh daya mentalnya terserap untuk mengeja dan mengenali huruf. Sehingga, tidak ada lagi ruang alias kapabilitas nan tersisa untuk memahami makna teks. Hal tersebut nan menjadikan kenapa siswa tampak kesulitan mengikuti pelajaran secara keseluruhan.
Suatu perihal nan krusial perlu diperhatikan latar belakang siswa. Dalam buletin disebutkan bahwa siswa ini terlambat masuk sekolah. Siswa mulai menempuh pendidikan umum pada usia tujuh tahun dan sekarang duduk di kelas enam SD.
Ia diketahui pernah tidak naik kelas selama dua tahun. Ini menjadi petunjuk krusial bahwa kesulitan nan dialami belum tentu disebabkan oleh gangguan seperti disleksia. Disleksia adalah gangguan belajar berbasis neurobiologis nan menyebabkan kesulitan dalam membaca, menulis, mengeja, dan memproses info bahasa.
Kondisi seperti ini dikenal sebagai instructional casualties, ialah kesulitan belajar nan muncul lantaran kurangnya pengalaman belajar, bukan lantaran gangguan kognitif. Artinya, bisa jadi siswa ini tidak mendapatkan stimulasi literasi nan cukup sejak dini, sehingga fondasi membacanya tidak pernah terbentuk dengan baik.
Langkah nan diambil Dinas Pendidikan nan menyarankan pendampingan unik menjadi sangat tepat. Namun, pertanyaannya: Apakah sistem pembelajaran nan ada sudah cukup mendukung?
Pembelajaran di sekolah tetap banyak dilakukan secara klasikal. Semua siswa diperlakukan sama, tanpa memandang perbedaan keahlian nan cukup jauh. Padahal, dalam kasus seperti ini, pendekatan tersebut justru memperlebar kesenjangan.
Melihat konsep Multi-Tiered System of Supports (MTSS). Siswa seperti dalam kasus ini semestinya sudah masuk dalam kategori nan memerlukan intervensi intensif dan individual. Artinya, dia tidak bisa hanya mengikuti pembelajaran biasa, tetapi juga memerlukan pendampingan unik secara rutin.
Selain itu, pembimbing juga perlu menerapkan differentiated instruction, ialah menyesuaikan pembelajaran dengan keahlian siswa. Dalam konteks kasus ini, sangat tidak realistis jika siswa dipaksa mengikuti materi kelas sesuai usianya, sementara keahlian membaca dasarnya belum terbentuk. Jika tetap dipaksakan, nan terjadi justru frustrasi dan kegagalan berulang.
Kegagalan nan terus-menerus inilah nan kemudian berisiko menimbulkan masalah psikologis.
Bayangkan posisi siswa tersebut: berumur 15 tahun, tetapi kudu belajar berbareng anak-anak nan jauh lebih muda, sekaligus menghadapi kesulitan membaca. Situasi ini sangat rentan menimbulkan tekanan emosional.
Persoalan ini dapat mempengaruhi secara psikologis nan mengarah pada learned helplessness, ialah keadaan ketika seseorang merasa bahwa upaya apa pun tidak bakal membuahkan hasil. Setelah berulang kali gagal, siswa bisa sampai pada titik menyerah dan kehilangan motivasi belajar.
Yang lebih mengkhawatirkan, kondisi ini tidak hanya berakibat pada akademik, tetapi juga pada langkah pandang siswa terhadap dirinya sendiri. Ia bisa mulai merasa bahwa dirinya memang tidak mampu. Jika dibiarkan, ini bisa memengaruhi kesehatan mental dalam jangka panjang.
Risiko lain nan mungkin muncul. Seperti halnya dalam perbedaan usia nan jauh dengan kawan sekelas dapat memicu rasa malu, rendah diri, apalagi potensi perundungan. John Hattie mengatakan bahwa kondisi seperti tinggal kelas dalam jangka panjang dapat berakibat negatif terhadap kepercayaan diri siswa.
Jika ditarik lebih luas, kasus ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari lingkungan tempat anak tumbuh—melihat teori ekologi perkembangan nan dikemukakan oleh Bronfenbrenner bahwa perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan terdekat, terutama keluarga.
Jika sejak mini anak tidak mendapatkan stimulasi literasi—misalnya tidak terbiasa membaca alias tidak mempunyai akses terhadap buku—keterlambatan seperti ini sangat mungkin terjadi. Melihat kasus siswa di Kukar, keterlambatan masuk sekolah menjadi salah satu parameter bahwa aspek lingkungan turut berperan.
Oleh lantaran itu, peran orang tua menjadi sangat penting. Orang tua tidak hanya memberi motivasi, tetapi juga menjadi pendamping belajar di rumah. Dukungan orang tua bisa menjadi kunci untuk membantu anak mengejar ketertinggalan.
Lalu, apa nan bisa dilakukan?
Pendampingan unik nan disarankan oleh Dinas Pendidikan perlu diikuti dengan strategi nan tepat. Salah satu metode nan terbukti efektif adalah repeated reading, ialah membaca teks nan sama secara berulang hingga siswa mencapai kelancaran tertentu. Teknik ini membantu siswa membangun keahlian membaca secara bertahap—dari mengeja menuju mengenali kata secara otomatis.
Selain itu, program seperti MULTILIT (Making Up Lost Time in Literacy) juga bisa menjadi solusi, lantaran dirancang unik untuk siswa nan mengalami keterlambatan literasi nan cukup berat. Namun, intervensi tidak boleh berakhir pada aspek akademik. Sekolah juga perlu memastikan bahwa siswa merasa kondusif secara sosial dan emosional.
Program Social and Emotional Learning (SEL) dapat membantu menciptakan lingkungan nan lebih inklusif, sekaligus mencegah terjadinya perundungan. Siswa lain perlu diajak memahami bahwa setiap orang mempunyai kecepatan belajar nan berbeda-beda. Tanpa adanya empati, proses pemulihan siswa justru bakal semakin sulit.
Pada akhirnya, kasus ini menjadi pengingat krusial bagi sistem pendidikan kita. Selama ini, sering kali kita baru bertindak ketika masalah sudah besar. Siswa dibiarkan tertinggal terlalu lama, baru kemudian diberikan bantuan.
Pendekatan seperti ini jelas tidak efektif. Semakin lama intervensi ditunda, semakin susah bagi siswa untuk mengejar ketertinggalannya. Seharusnya, sistem pendidikan lebih proaktif melalui penemuan awal dan intervensi sejak awal. Dengan langkah nan tepat, banyak kasus seperti ini sebenarnya bisa dicegah.
Kasus siswa di Kukar ini bukan hanya tentang satu anak nan kesulitan membaca. Ini adalah gambaran dari gimana sistem merespons kebutuhan siswa. Jika sistem bisa beradaptasi melalui pembelajaran nan fleksibel, support psikologis, dan keterlibatan keluarga, siswa nan tertinggal pun tetap mempunyai kesempatan untuk berkembang.
Namun, jika sistem tetap melangkah seperti biasa, nan tertinggal tidak hanya satu siswa, tetapi banyak nan lain, nan mungkin belum terlihat. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan juga tanggung jawab berbareng orang tua, guru, dan lingkungan. Dengan langkah mini nan konsisten, setiap anak tetap mempunyai kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·