Amran dan Zulhas Bersatu, Bunuh Tengkulak di RI Pakai Cara Ini

Sedang Trending 54 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman, menilai keberadaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih bakal menjadi kunci untuk memangkas rantai pengedaran pangan, sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap tengkulak.

Melalui skema tersebut, rantai pasok komoditas pertanian dipangkas dari delapan mata rantai menjadi hanya tiga jalur.

Amran mengatakan, selama ini panjangnya rantai pengedaran membikin untung lebih banyak dinikmati oleh para perantara alias tengkulak, dibanding petani. Karena itu, pemerintah mendorong koperasi menjadi penghubung langsung antara petani dan masyarakat.

"Ini koperasi sebenarnya jika di sektor pertanian, kegunaan utamanya adalah memotong supply chain, alias rantai pasok. Itu dari delapan menjadi tiga. Jadi dari delapan rangkaian menjadi tiga. Tiga itu dari petani ke koperasi, koperasi ke masyarakat," ujar Amran dalam konvensi pers usai Rakortas di instansi Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Ia pun mengaku pernah menghitung potensi untung nan selama ini dinikmati para tengkulak dari sembilan komoditas pertanian, ialah mencapai Rp313 triliun. Dengan kehadiran koperasi, sebagian besar nilai tersebut diharapkan bisa kembali ke petani dan masyarakat.

Salah satu program prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran adalah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) terus dipercepat pengerjaan fisiknya. Di salah satu desa terpencil di Jawa Barat Selatan, Desa Padasuka, Kecamatan Cibinong, progres bentuk sudah tahap finisihing. (CNBC Indonesia/Suhendra)Salah satu program prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran adalah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) terus dipercepat pengerjaan fisiknya. Di salah satu desa terpencil di Jawa Barat Selatan, Desa Padasuka, Kecamatan Cibinong, progres bentuk sudah tahap finisihing. (CNBC Indonesia/Suhendra) Foto: Salah satu program prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran adalah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) terus dipercepat pengerjaan fisiknya. Di salah satu desa terpencil di Jawa Barat Selatan, Desa Padasuka, Kecamatan Cibinong, progres bentuk sudah tahap finisihing. (CNBC Indonesia/Suhendra)

"Nah kami pernah hitung sembilan komoditas, itu nilainya untuk middleman (tengkulak) dia dapatkan untung Rp313 triliun. Nah, katakanlah koperasi dapat Rp50 triliun saja. Artinya apa? Ada Rp263 triliun itu bisa dinikmati petani, nilai komoditas bisa naik, kemudian konsumen daya belinya naik, konsumen nan biasanya beli 1 kg bisa menjadi 1,5 kg," jelasnya.

Menurut Amran, perputaran biaya nan lebih besar di tingkat desa bakal memperkuat ekonomi kerakyatan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

"Itu nan diinginkan Bapak Presiden (Prabowo Subianto). Kemudian, duit nan Rp263 triliun itu berputar di desa. Sehingga terjadilah ekonomi kerakyatan," ucap dia.

Tak hanya memangkas rantai distribusi, koperasi juga bakal menjadi titik jasa beragam kebutuhan petani. Salah satunya pengedaran pupuk agar lebih dekat dengan lahan pertanian.

"Jadi pupuk kelak tidak lagi jauh (dari) petani-petani kita, lantaran ada di desa mengambil pupuk," kata Amran.

Selain itu, koperasi juga bakal menjadi tempat penjualan gabah petani sehingga mereka tidak perlu lagi mengangkut hasil panen ke penyimpanan Bulog nan lokasinya relatif jauh.

"Yang kedua, menjual gabah itu langsung ke koperasi, lantaran biasanya penyimpanan Bulog itu jaraknya 50 km dari sawah," ujarnya.

Amran menilai kehadiran koperasi di setiap desa bakal membikin aktivitas ekonomi lebih banyak berputar di daerah, sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat.

"Nah, jika setiap desa ada koperasi, uangnya berputar di situ. Jadi rantai pasoknya pendek, kemudian daya beli masyarakat naik, kemudian kesejahteraan petani meningkat," tutur dia.

Lebih lanjut, Amran mengatakan pemerintah juga menyiapkan peran Agrinas Pangan sebagai pelaksana beragam penugasan dari Bapanas. Perusahaan tersebut nantinya berfaedah sebagai pemasok sekaligus offtaker hasil pertanian.

"Kemudian semua dari support dari pemerintah, Bapanas, kami sebagai Kepala Bapanas kelak menugaskan kepada Agrinas Pangan. Ini nan menjalankan, dapat untung dari situ, pupuk dapat untung dari situ. Kemudian menjadi offtaker dan distributor. Jadi ada dua fungsi: offtaker, sayur-sayuran nan selama ini biasa kita lihat tomat dibuang, sayur dibuang, cabe dibuang lantaran harganya murah. di Aceh murah tapi di timur mahal. Nah, inilah kegunaan Agrinas Pangan kelak meng-organize dari Sabang sampai Merauke," terangnya.

Senada dengan Amran, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan alias berkawan disapa Zulhas, menegaskan Koperasi Desa Merah Putih bukanlah supermarket seperti dugaan sebagian masyarakat. Menurutnya, koperasi diposisikan sebagai prasarana pemerintah untuk menyalurkan beragam program dan memperkuat tata niaga pangan.

"Sebagaimana selalu kami jelaskan, bahwa koperasi ini bukan supermarket. Nah, lantaran di benaknya teman-teman dulu itu koperasi itu supermarket," ujar Zulhas dalam kesempatan nan sama.

Ia menjelaskan kegunaan utama koperasi adalah menjadi saluran pengedaran peralatan subsidi dan support pemerintah, sekaligus menjadi offtaker bagi komoditas pertanian prioritas.

"Jadi sekali lagi, koperasi ini adalah prasarana pemerintah untuk kelak menyalurkan barang-barang subsidi, ya, dan barang-barang support pemerintah. Dia sebagai infrastruktur," tegasnya.

"Kedua, juga bisa berfaedah sebagai offtaker ya, terutama produk-produk pertanian nan menjadi prioritas pemerintah seperti beras. Pembelian gabah, ya. Kalau di wilayah itu gabahnya ditentukan pemerintah Rp6.500 per kg, rupanya harganya tengkulak membeli Rp5.000 per kg, maka koperasi bisa membeli dengan Rp6.500 per kg, kerja sama dengan Bulog, ya," lanjut dia.

Menurut Zulhas, dua kegunaan tersebut bakal menjadi prioritas awal pemerintah. Setelah koperasi berkembang, pengelolaannya dapat diperluas sesuai potensi masing-masing desa.

"Jadi dua itu. Tentu nan paling mendasar itu dulu nan bakal dijalankan, kelak dilihat perkembangannya. Kalau koperasinya sudah bagus, di desa itu ada potensi beragam hal, bisa saja koperasinya mengembangkan ada desa wisata, ada desa tematik, ada macam-macam, ya. Tetapi nan paling mendasar tadi, prasarana dan sebagai offtaker," pungkasnya.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News