Amoeba Air Bisa Jadi 'Kuda Troya' Bakteri Mematikan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Amoeba Air Bisa Jadi 'Kuda Troya' Bakteri Mematikan Ilustrasi(Unsplash)

PARA peneliti lingkungan dan kesehatan masyarakat memberikan peringatan serius mengenai golongan mikroba nan dinilai bisa menjadi ancaman besar bagi kesehatan manusia. Organisme tersebut adalah amoeba hidup bebas (free-living amoebae) nan plural ditemukan di air dan tanah. Ilmuwan menyebut perkembangbiakannya kian mengkhawatirkan seiring pemanasan dunia dan penuaan sistem saluran air.

Dalam tulisan ilmiah nan diterbitkan di jurnal Biocontaminant, para peneliti menggambarkan amoeba ini sebagai akibat kesehatan masyarakat nan kerap terabaikan. Kombinasi antara perubahan iklim, prasarana air nan menua, serta sistem pemantauan nan lemah dapat membikin amoeba rawan ini menyebar luas dan semakin susah dikendalikan.

Meskipun sebagian besar amoeba di alam tidak membahayakan manusia, beberapa jenis tertentu dapat memicu penyakit parah. Salah satu contoh nan paling dikenal adalah Naegleria fowleri, alias nan sering disebut sebagai amoeba pemakan otak. Organisme ini dapat menyebabkan jangkitan otak langka nan sangat mematikan ketika air nan terkontaminasi masuk ke dalam hidung, biasanya saat seseorang berenang alias melakukan aktivitas air lainnya.

"Apa nan membikin organisme ini sangat rawan adalah keahlian mereka untuk memperkuat hidup dalam kondisi nan membunuh banyak mikroba lain," kata Longfei Shu dari Sun Yat-sen University selaku penulis korespondensi studi tersebut. "Mereka dapat mentoleransi suhu tinggi, disinfektan kuat seperti klorin, dan apalagi hidup di dalam sistem pengedaran air nan dianggap kondusif oleh masyarakat."

Bahaya terbesar tidak hanya datang dari amoeba itu sendiri. Peneliti memperingatkan bahwa makhluk bersel tunggal ini dapat bertindak sebagai pelindung hidup bagi mikroba rawan lainnya. Bakteri dan virus dapat berlindung di dalam tubuh amoeba sehingga mereka terlindungi dari proses disinfektan dan metode pengolahan air bersih.

Para intelektual menyebut kejadian ini sebagai pengaruh "Kuda Troya". Kondisi ini diduga kuat turut berkedudukan dalam penyebaran kuman nan kebal terhadap antibiotik.

Risiko ini diproyeksikan bakal semakin meluas akibat peningkatan suhu global. Jenis amoeba nan menyukai suhu hangat sekarang dapat memperkuat hidup dan menyebar ke wilayah-wilayah nan sebelumnya jarang mendeteksi keberadaan mikroba tersebut.

Menyikapi ancaman ini, para penulis mendesak penerapan strategi One Health nan mengintegrasikan sektor kesehatan manusia, pengetahuan lingkungan, dan manajemen pengelolaan air. Pengawasan nan lebih ketat, perangkat pemeriksaan nan lebih cepat, serta teknologi pengolahan air nan lebih canggih sangat dibutuhkan untuk menekan akibat sebelum jangkitan terjadi.

"Amoeba bukan sekadar masalah medis alias masalah lingkungan," ujar Shu. "Mereka berada di persimpangan keduanya, dan penanganannya memerlukan solusi terpadu nan melindungi kesehatan masyarakat langsung dari sumbernya." (Science Daily/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia