Alasan WHO Tetapkan Virus Ebola sebagai Darurat Kesehatan Global, Ini Cara Penularannya

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Alasan WHO Tetapkan Virus Ebola sebagai Darurat Kesehatan Global, Ini Cara Penularannya

Virus ebola sudah ditetapkan WHO sebagai darurat kesehatan global. (Foto: Freepik)

WORLD Health Organization (WHO) menetapkan virus ebola sebagai darurat kesehatan global. Alasan WHO menetapkan status tersebut pun terungkap.

Menarik sekarang menilik serba-serbi soal WHO. Selain soal argumen penetapan status darurat kesehatan global, langkah penularan virus ini juga krusial diketahui agar bisa menghindarinya.

Kemenkes Tegaskan Belum Ada Kasus Ebola di Indonesia meski WHO Tetapkan Darurat Global

1. Alasan WHO Tetapkan Ebola Darurat Kesehatan Global

Setelah ramai rumor soal hantavirus di Indonesia, sekarang pandemi virus baru ialah Ebola juga ramai diperbincangakan. Dokter ahli mikrobiologi klinik, dr. Ayman Alatas pun mencoba menjelaskan soal virus ini melalui cuitannya di X.

Lewat unggahan di akun X pribadinya, dr. Ayman menjelaskan bahwa WHO baru saja menetapkan pandemi Ebola di Democratic Republic of the Congo dan Uganda sebagai “public health emergency of international concern” alias darurat kesehatan global.

“Apa itu Bundibugyo? Strain Ebola nan jarang dan sudah jadi darurat kesehatan global,” tulis dr. Ayman membuka utasnya.

Berbeda dengan pandemi Ebola sebelumnya nan banyak didominasi strain Zaire, kali ini penyebaran disebabkan oleh strain Bundibugyo. Bundibugyo termasuk salah satu virus orthoebola penyebab penyakit Ebola.

Menurut dr. Ayman, Ebola adalah penyakit dengan tingkat fatalitas tinggi nan menyebar melalui beragam cara. Seperti kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, material nan terkontaminasi, hingga jenazah pasien nan meninggal akibat penyakit tersebut.

2. Gejala Ebola

Dokter Ayman juga menjelaskan beberapa indikasi terpapar virus Ebola. Di antaranya, demam, nyeri tubuh, kelemahan, muntah, dan pendarahan di beberapa kasus.

“Gejala awal meliputi demam, nyeri tubuh, kelemahan, dan muntah, nan dalam beberapa kasus diikuti dengan perdarahan,” tulisnya.

Sementara itu, tingkat kematian strain Bundibugyo ini diperkirakan mencapai 30-40 persen. Hingga kini, pengobatan nan tersedia tetap sebatas perawatan suportif.

Dokter Ayman pun menjelaskan bahwa pandemi kali ini adalah outbreak Bundibugyo terbesar nan pernah terdokumentasi. Tercatat, sudah ada 246 kasus suspek dan 80 kematian.

Kondisi ini menunjukkan virus diduga telah menyebar selama berminggu-minggu apalagi berbulan-bulan sebelum akhirnya terdeteksi secara resmi. Dokter Ayman pun mengimbau beberapa upaya pencegahan seperti protokol keselamatan hingga pencarian kontak.

“Pencegahan melalui protokol keselamatan, surveilans ketat, pencarian kontak, dan engagement organisasi menjadi strategi kontrol utama dalam mengatasi situasi nan kompleks ini,” jelasnya.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com