Al-Battani, Astronom Muslim yang Berhasil Menghitung Panjang Tahun Tropis dengan Akurat

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Al-Battani, Astronom Muslim nan Berhasil Menghitung Panjang Tahun Tropis dengan Akurat Ilustrasi Al-Battani(Doc Wiki)

Jauh sebelum teleskop modern dan komputer digunakan untuk menghitung pergerakan barang langit, astronom Muslim berjulukan Al-Battani telah melakukan pengamatan astronomi selama puluhan tahun. Melalui pengamatan tersebut, dia sukses memperbaiki kalkulasi panjang tahun tropis menjadi 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik.

Al-Battani merupakan astronom dan matematikawan nan hidup sekitar 850–929 M. Ia dikenal di Eropa dengan nama Albategnius. Kontribusinya dalam astronomi tercatat dalam Kitab al-Zij, karya nan memuat hasil pengamatan serta tabel kalkulasi posisi dan pergerakan barang langit.

Menurut MacTutor History of Mathematics dari University of St Andrews, Al-Battani melakukan pengamatan astronomi di wilayah ar-Raqqah dan Antiokhia, Suriah. Catatan sejarah menyebut pengamatannya berjalan sekitar 877 hingga 918 M.

Mengoreksi Perhitungan Astronomi Sebelumnya

Salah satu kontribusi Al-Battani adalah memperbaiki nilai panjang tahun tropis, ialah periode nan berangkaian dengan siklus musim dan pergantian posisi Matahari terhadap ekuinoks. Perhitungan ini krusial untuk memahami perubahan musim dan menyusun sistem penanggalan berbasis Matahari.

Dalam Kitab al-Zij, Al-Battani mencatat panjang tahun tropis sebesar 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik. Angka tersebut menunjukkan upayanya menghasilkan kalkulasi nan lebih jeli dibandingkan sejumlah nilai astronomi nan digunakan sebelumnya.

Pengamatan Al-Battani tidak hanya membahas panjang tahun. Ia juga meneliti posisi Matahari dan Bulan, pergerakan planet, serta kemiringan bagian ekliptika, ialah bagian semu lintasan tahunan Matahari di langit jika diamati dari Bumi.

Menggabungkan Pengamatan dan Matematika

Keunggulan Al-Battani terletak pada penggunaan hasil pengamatan untuk memperbaiki kalkulasi astronomi. Ia mengembangkan penggunaan trigonometri dalam penyelesaian persoalan astronomi, termasuk kalkulasi nan sebelumnya banyak menggunakan pendekatan geometris.

Kitab al-Zij terdiri atas 57 bab nan membahas beragam persoalan astronomi dan dilengkapi tabel perhitungan. Karya tersebut juga memuat info pengamatan Al-Battani sendiri, sehingga dapat digunakan untuk mempelajari posisi serta pergerakan barang langit.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa perkembangan astronomi pada masa itu tidak hanya berjuntai pada pemikiran teoritis, tetapi juga pada pengamatan nan dilakukan secara berulang dan pencatatan hasilnya.

Karyanya Dipelajari Astronom Eropa

Pengaruh Al-Battani bersambung setelah masa hidupnya. Karya astronominya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Plato dari Tivoli pada 1116 dengan titel De motu stellarum.

Menurut MacTutor History of Mathematics, pemikiran dan hasil perhitungannya kemudian berpengaruh terhadap sejumlah astronom Eropa, termasuk Nicolaus Copernicus, Tycho Brahe, Johannes Kepler, dan Galileo Galilei.

Warisan Al-Battani menunjukkan peran krusial intelektual dari bumi Islam dalam perkembangan pengetahuan astronomi. Melalui pengamatan panjang, kalkulasi matematis, dan pencatatan sistematis, dia membantu menyempurnakan pemahaman manusia tentang pergerakan barang langit.

Sumber: MacTutor History of Mathematics, University of St Andrews, Max Planck Institute for the History of Science

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑