Jakarta, CNBC Indonesia - Pagi di Asrama Pemali Boarding School selalu dimulai lebih awal. Sejumlah siswa sudah bangun sebelum mentari terbit, merapikan tempat tidur, bersiap mengikuti aktivitas pagi, sebelum betul-betul berangkat ke sekolah untuk mengikuti pelajaran akademik.
Bagi mereka, rutinitas bangun pagi ini menjadi tanggungjawab nan diberikan contoh dengan sangat baik dari para seniornya. Kelak, kebiasaan menjadi modal bagi mereka untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya di kampung halaman.
Di lingkungan asrama, para siswa mendapatkan ruang dan kesempatan untuk belajar dan berkembang lebih baik. Melalui program sekolah berasrama berbasis beasiswa, anak-anak peserta didik nan berasal dari family pekerja harian, nelayan, hingga pekerja serabutan sekarang mempunyai akses pada pendidikan nan sebelumnya susah dijangkau.
Program Pemali Boarding School nan didukung PT Timah, personil holding industri pertambangan MIND ID, telah melangkah sejak tahun 2000 dan menjangkau wilayah Bangka Belitung, Karimun, hingga Meranti. Hingga kini, sekitar 952 alumni telah merasakan faedah program tersebut.
Di kembali nomor tersebut, Kepala Asrama Pemali Boarding School, Ulul menyampaikan, bahwa kebanyakan siswa berasal dari family dengan kondisi ekonomi terbatas.
"Banyak orang tua nan awalnya ragu lantaran keterbatasan biaya. Mereka tidak membayangkan anaknya bisa mendapatkan akomodasi pendidikan seperti ini," ujar Ulul dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (17/5/2026).
Namun, setelah memahami bahwa program ini memberikan support penuh, dari perusahaan, mulai dari pendidikan hingga beragam program pembinaan, para orang tua justru menjadi pihak nan paling mendorong anak-anaknya untuk mengikuti seleksi.
Alhasil, setiap tahun sebanyak 36 siswa terpilih mendapatkan danasiwa penuh dan tinggal di pondok selama menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Pemali. Proses seleksi dilakukan melalui asesmen akademik dan ilmu jiwa bekerja sama dengan tim dari Universitas Padjadjaran.
Ulul menegaskan, bahwa pembinaan di pondok tidak hanya berfokus pada akademik. Para siswa juga dibekali keahlian seperti public speaking, pengelolaan media sosial, serta penguatan karakter dan kepemimpinan.
Pembinaan ini dilakukan secara rutin untuk membantu siswa menghadapi tantangan di luar sekolah, baik di bumi kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
Yang kita bangun bukan hanya keahlian akademik, tetapi juga kepercayaan diri dan langkah mereka memandang masa depan," ujarnya.
Dampak program ini mulai terlihat dari capaian para siswa. Tahun ini, sebanyak 20 siswa sukses lolos ke perguruan tinggi melalui jalur prestasi, sementara siswa lainnya tetap menjalani proses seleksi melalui jalur tes. Para siswa juga mencatatkan prestasi dalam lomba debat Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di tingkat Kabupaten Bangka.
Di samping itu, akibat nan lebih krusial justru terlihat dalam jangka panjang. Banyak alumni nan melanjutkan pendidikan alias telah bekerja, dan perlahan mulai berkontribusi kembali di lingkungan sekitarnya.
"Mereka tidak hanya berubah secara pribadi, tetapi juga membawa pengaruh bagi family dan komunitasnya. Itu nan paling terasa," katanya.
Menurut Ulul, tantangan terbesar para siswa justru muncul pada masa awal adaptasi. Sebagian siswa belum pernah tinggal jauh dari orang tua dan kudu menyesuaikan diri dengan pola belajar nan lebih disiplin.
"Namun, proses itulah nan membentuk mereka. Seiring waktu, para siswa mulai menunjukkan perubahan. Mereka nan semula pendiam menjadi lebih berani berbicara, lebih percaya diri, dan bisa mengikuti ritme belajar nan lebih terstruktur," jelasnya.
Bagi anak-anak dari pesisir dan area tambang, kesempatan ini bukan sekadar soal bersekolah.
Kesempatan ini menjadi titik awal nan membuka masa depan baru, untuk melanjutkan pendidikan, membantu keluarga, dan memandang masa depan dengan langkah nan berbeda dari sebelumnya.
(bul/bul)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·