Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia dan Rusia kian solid memperkuat kerja sama ekonomi strategis. Hal tersebut ditegaskan dalam pertemuan bilateral antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto dengan Deputi Pertama Perdana Menteri (DPM) Rusia Denis Manturov di Bogor, Jawa Barat.
Pertemuan tersebut berfokus pada ekspansi kemitraan antar-pelaku usaha, peningkatan kapabilitas industri nasional, hingga penjajakan kerjasama di sektor strategis seperti perkapalan dan kedirgantaraan (aerospace).
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pembicaraan tingkat tinggi antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok pada September 2026, serta Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 RI-Rusia di Kazan pada Mei 2026.
"Indonesia dan Rusia mempunyai potensi besar untuk terus memperkuat kerja sama ekonomi nan saling menguntungkan. Kami berkomitmen untuk mendorong peningkatan perdagangan dan investasi, memperluas kemitraan antar-pelaku usaha, serta memastikan beragam kesempatan kerja sama dapat ditindaklanjuti menjadi langkah konkret," ujar Menko Airlangga, dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (17/10/2026).
Nilai Perdagangan Melonjak 21,6%
Hubungan jual beli kedua negara mencatatkan tren positif. Pada 2025, total nilai perdagangan Indonesia-Rusia menembus US$4,84 miliar (sekitar Rp87 triliun), melonjak 21,6% dibandingkan tahun 2024 nan sebesar US$3,98 miliar.
Komoditas utama nan menjadi tulang punggung perdagangan kedua negara meliputi minyak kelapa sawit (CPO), kopi, kakao, produk pertanian, hingga pasokan pupuk.
Guna menjaga tren pertumbuhan tersebut, Menko Airlangga menyambut baik partisipasi aktif delegasi upaya Rusia pada gelaran Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Momentum ini dimanfaatkan untuk memperluas kemitraan business-to-business (B2B) serta diversifikasi produk ekspor-impor.
Senada, DPM Manturov menegaskan bahwa penguatan kontak upaya secara langsung merupakan kunci utama pengembangan kerja sama ekonomi kedua belah pihak.
"Perusahaan-perusahaan kami menghadiri pertemuan business-to-business dengan mitra potensial Indonesia, serta forum upaya dengan sesi tematik mengenai perdagangan, investasi, dan kerja sama industri," ungkap Manturov.
FTA Indonesia-EAEU Target Efektif Akhir 2026
Isu krusial lain nan dibahas adalah percepatan Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-Eurasian Economic Union (Indonesia-EAEU FTA). Perjanjian ini dirancang untuk membuka akses pasar nan lebih luas bagi produk unggulan Indonesia, seperti kelapa sawit, kopi, kakao, tekstil, dan furnitur, ke area Eurasia.
Saat ini, proses ratifikasi perjanjian jual beli tersebut sudah memasuki tahap akhir. Kedua negara membidik seluruh proses manajemen selesai sebelum akhir tahun 2026, sehingga perjanjian dapat segera bertindak efektif (Entry into Force/EIF).
Selain sektor perdagangan, Indonesia dan Rusia sepakat memperkuat kerjasama di bagian pertanian, mengambil teknologi, manufaktur industri, hingga keandalan rantai pasok (supply chain).
Turut mendampingi Menko Airlangga dalam pertemuan tersebut ialah Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Edi Prio Pambudi, serta Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Ferry Irawan.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·