Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS wajar terjadi pada saat musim Haji dan pembagian dividen oleh emiten, terlebih pada kuartal II 2026.
Airlangga mengatakan, mata duit beberapa negara juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Khusus untuk rupiah, pelemahan ini juga disebabkan permintaan (demand) Dolar AS nan naik lantaran momentum musim ibadah haji.
"Biasanya juga pada saat ibadah haji, demand terhadap dolar itu meningkat, jadi kelak kita juga bakal monitor kebutuhan tersebut," ungkapnya saat konvensi pers, Selasa (5/5).
"Dan juga biasanya di kuartal II, itu juga ada pembayaran dividen, jadi demand terhadap dolar tinggi dan kita lihat tetap monitor gimana dengan negara-negara lain," imbuh Airlangga.
Airlangga mengungkapkan, salah satu solusi nan disiapkan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) ialah sistem Cross Currency Swap, ialah perjanjian antara dua pihak untuk menukar arus kas dalam dua mata duit berbeda.
Mekanisme tersebut, lanjut dia, bakal dilakukan dengan beberapa negara seperti China dan Jepang, nan diharapkan dapat mengurangi paparan terhadap penggunaan dolar AS untuk publikasi utang dan lain sebagainya.
"Swap currency dengan China kemudian dengan beragam negara lain termasuk Jepang, Korea, dan nan lain sehingga berambisi kelak ke depan kita juga bakal terus mempersiapkan komposisi mengenai dengan tingkat utang nan kita bisa, surat berbobot nan kita bisa terbitkan, nan sifatnya seperti dari China ataupun dari yen (Jepang) itu untuk menjaga tekanan terhadap US dolar," jelasnya.
Saat ditanya mengenai sistem Cross Currency Swap, Airlangga menegaskan bahwa kebijakan tersebut berbeda dengan Local Currency Transaction, nan juga rutin dilakukan oleh BI.
"Jadi artinya kita dengan China kan langsung dengan rupiah, tidak perlu lewat (Dolar AS). Beda, Local Currency Transaction beda lagi, itu kan untuk QRIS untuk konsumen," tandas Airlangga.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah dan menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa (5/5). Berdasarkan info Bloomberg, rupiah dibuka turun 13,50 poin alias 0,08 persen ke Rp 17.407 per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan komitmen BI dalam mengawal pergerakan rupiah agar tetap sesuai esensial ekonomi.
“Bank Indonesia bakal terus datang di pasar untuk memastikan sistem pasar melangkah dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya,” jelas Erwin dalam keterangannya, Selasa (5/5).
Untuk meredam gejolak, BI mengoptimalkan intervensi di pasar kurs asing (valas) melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
“Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global,” terang Erwin.
Erwin menyebutkan, sejumlah mata duit negara tetangga juga terpantau lemah seperti Filipina Peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand Baht melemah 5,04 persen, India Rupee melemah 4,32 persen, demikian pula dengan Chili Peso lemah 4,24 persen, Indonesia rupiah melemah 3,65 persen, dan Korea Won melemah 2,29 persen.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·