Menko Perekonomian Airlangga Hartarto merespons pelemahan rupiah nan tengah terjadi. Menurutnya, perihal itu tak hanya dialami oleh Indonesia.
Maka dari itu, upaya nan bakal dilakukan pemerintah adalah melakukan monitoring terhadap negara-negara nan mengalami perihal serupa.
“Pemerintah tentu bakal melihat, tetapi juga mengenai dengan pelemahan kurs kan bukan hanya monopoli Indonesia, tetapi beragam negara menghadapi perihal nan sama. Jadi kita monitor terhadap peer country juga,” kata Airlangga ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta pada Senin (4/5).
Sebelumnya, Airlangga menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh dinamika global. Meski begitu, Airlangga menegaskan tidak bakal bersikap reaktif terhadap pergerakan harian nilai tukar rupiah.
Berdasarkan info Bloomberg pukul 11.06 WIB, nilai tukar rupiah tercatat Rp 17.367 per dolar AS, melemah 30,00 poin (0,17 persen).
Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengatakan tekanan terhadap rupiah dinilai tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan pelemahan mata duit di kawasan. Kondisi global, termasuk eskalasi bentrok geopolitik dan sentimen pasar finansial internasional, tetap menjadi aspek utama nan membebani pergerakan rupiah.
“Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian dunia nan juga menekan mata duit regional. Pergerakan rupiah tetap sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year to date sebesar 3,54 persen,” kata Destry dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4).
Di tengah tekanan tersebut, Destry memastikan BI terus mengintensifkan langkah stabilisasi. Upaya ini dilakukan untuk menjaga daya tarik aset domestik, sekaligus meredam volatilitas di pasar keuangan.
“Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat struktur suku kembang instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya akibat bentrok Timur Tengah," terang Destry.
"Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder. Cadangan devisa juga tetap kuat sebesar USD 148,2 miliar pada akhir Maret 2026,” tambahnya.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·