Airlangga Ajak Jerman Bangun PLTS 100 GW: Kami Butuh Teknologi dan Modal

Sedang Trending 55 menit yang lalu
Pekerja memeriksa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) genting di Rusunawa Cipta Griya Kedaung, Kota Tangerang, Banten, Kamis (30/4/2026). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO

Pemerintah mendorong transformasi daya hijau untuk mengejar sasaran pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) dalam 2-3 tahun ke depan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pencapaian sasaran tersebut memerlukan support teknologi dan peralatan modal dalam jumlah besar, sehingga membuka kesempatan kerja sama dengan negara-negara asing, terutama Jerman.

“Kami mempunyai sasaran sekitar 100 gigawatt dalam 2 hingga 3 tahun. Artinya, kami memerlukan banyak teknologi dan banyak peralatan modal, dan perihal ini terbuka untuk partisipasi dari Jerman,” ucap Airlangga usai berjumpa German Federal Minister for Economic Cooperation & Development di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (20/8).

Airlangga juga menyebut program dedieselisasi menjadi salah satu prioritas Indonesia tahun ini. Program tersebut menargetkan kapabilitas sekitar 13,3 GW untuk mengubah pembangkit listrik tenaga diesel di pulau-pulau mini menjadi tenaga surya.

“Jadi, menurut saya [kerja sama] ini merupakan sesuatu nan dibutuhkan Indonesia,” ucap Airlangga.

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Menteri Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Reem Alabali Radovan memberikan keterngan pers usai pertemuan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Pemerintah pun berupaya mempercepat realisasi program Just Energy Transition Partnership (JETP). Indonesia mempunyai alokasi biaya sekitar USD 21 miliar dalam program tersebut, tetapi hingga sekarang baru sekitar USD 4 miliar nan telah dimanfaatkan.

“Kami mengetahui bahwa ada sejumlah tantangan dalam kedua area tersebut, tetapi menurut saya ini merupakan sesuatu nan mau didorong oleh Indonesia,” ujar Airlangga.

Airlangga menambahkan, tetap terdapat sejumlah tantangan dalam pengembangan transformasi daya hijau dan realisasi JETP.

Dari sisi pembiayaan, Indonesia mempunyai pengalaman kerja sama dengan KfW (Kreditanstalt für Wiederaufbau), bank pembangunan dan investasi Jerman, nan dapat menyediakan pembiayaan bagi sektor swasta, khususnya untuk kebutuhan peralatan modal.

Sementara itu Menteri Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan, Reem Alabali Radovan, mengatakan Indonesia merupakan mitra strategis nan krusial bagi Jerman.

Ia menyebut kedua negara mempunyai hubungan kerja sama nan panjang dan saling percaya, terutama di bagian pembangunan, nan mau diperkuat lebih lanjut di sektor ekonomi.

“Saya mau memperkuat kerja sama kita di sektor ekonomi maupun pembangunan,” ucap Reem dalam kesempatan nan sama.

Ilustrasi PLTS atap. Foto: Dok. Pertamina

Menurut Reem, kerja sama tersebut dapat diperkuat melalui skema JETP nan dipimpin berbareng Jepang untuk mendukung transisi menuju daya terbarukan. Kerja sama ini juga diharapkan dapat memberikan faedah bagi beragam pihak, baik dalam upaya mengatasi perubahan suasana bagi perusahaan Indonesia dan Jerman.

Meski demikian, Reem belum bisa mengungkap nomor investasi nan disiapkan. Namun, dia menyebut sejumlah perusahaan Jerman telah datang di Indonesia dan turut berperan-serta dalam Indonesia Sustainable Energy Week, nan diselenggarakan berbareng GIZ, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta sejumlah mitra Indonesia lainnya.

“Kami menginginkan hasil positif bagi iklim, serta untung bagi perusahaan-perusahaan Indonesia maupun Jerman,” tutur Reem.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan