AI Masuk Arena K3: Industri Energi Dorong Sistem Keselamatan Kerja Prediktif

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
 Industri Energi Dorong Sistem Keselamatan Kerja Prediktif Seminar Nasional berjudul 'Peran Artificial Intelligence (AI) dalam Mendukung Penerapan SMK3 dan Process Safety Management (PSM)' nan digelar Perkumpulan Profesi Ahli K3 Indonesia berbareng Majalah Katiga di Binakarna Auditorium Hotel Bidakara, Jakarta, Kam(Dok. Perkumpulan Profesi Ahli K3 Indonesia)

PEMANFAATAN kepintaran buatan alias artificial intelligence (AI) mulai menjadi bagian krusial dalam transformasi sistem keselamatan kerja di sektor industri berisiko tinggi. Teknologi tersebut dinilai bisa mengubah pendekatan keselamatan kerja dari nan selama ini berkarakter reaktif menjadi lebih prediktif melalui keahlian mendeteksi anomali dan potensi akibat sebelum kejadian terjadi.

Dorongan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional berjudul 'Peran Artificial Intelligence (AI) dalam Mendukung Penerapan SMK3 dan Process Safety Management (PSM)' nan digelar Perkumpulan Profesi Ahli K3 Indonesia berbareng Majalah Katiga di Binakarna Auditorium Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (21/5).

Kegiatan itu dihadiri ratusan peserta dari kalangan praktisi profesional, akademisi, hingga ketua industri nan membahas penerapan AI untuk mendukung sasaran zero accident di lingkungan kerja.

Seminar menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan industri daya serta migas, di antaranya Bambang Riyanto Trilaksono, Taufik Adityawarman, Indra Pehulisa Sembiring, Avep Disasmita, serta Artyom Kachkovsky.

Dalam pemaparannya, para narasumber menyoroti potensi AI dalam memperkuat penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dan Process Safety Management (PSM), terutama untuk pengelolaan akibat pada sektor industri berbahaya.

Taufik Adityawarman mengatakan AI mempunyai keahlian besar dalam mendukung konsep predictive safety, ialah membaca pola anomali info sebelum kecelakaan maupun kegagalan proses betul-betul terjadi. Menurut dia, keahlian tersebut memungkinkan perusahaan mengambil langkah mitigasi lebih sigap sehingga akibat kecelakaan dapat ditekan.

"Secanggih apa pun teknologinya, kunci utamanya tetap ada pada peran manusia," ucap dia dikutip dari siaran pers nan diterima, Jumat (22/5).

Ia menambahkan investasi pengembangan teknologi AI untuk keselamatan kerja semestinya tidak hanya dipandang dari sisi biaya, melainkan juga akibat jangka panjang terhadap keselamatan pekerja dan keberlangsungan upaya perusahaan.

Diskusi kemudian dilanjutkan melalui sesi panel nan menghadirkan Ajrun Karim, Jimmy Permadi, Arief Syawaladi, serta Yun Firman.

Para panelis menyoroti sejumlah tantangan penerapan AI di lapangan, mulai dari kesiapan prasarana teknologi, kompetensi sumber daya manusia, hingga aspek keamanan siber nan dinilai menjadi aspek krusial dalam proses digitalisasi sistem keselamatan kerja.

Ketua Dewan Pengarah Kepanitiaan seminar, Masjuli, menilai pemanfaatan AI dalam bumi industri sekarang bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan nan kudu diantisipasi perusahaan modern.

Sementara itu, Penasihat Kepanitiaan, Dwinanto Kurniawan, mengatakan tantangan utama keselamatan kerja saat ini adalah keahlian industri untuk bergerak lebih sigap dan proaktif dalam merespons potensi risiko.

Menurut dia, teknologi digital memungkinkan proses pelaporan kejadian dilakukan secara real-time sehingga perusahaan dapat mengambil keputusan lebih sigap untuk melindungi keselamatan pekerja.

Di sisi lain, CEO Majalah Katiga, Sudirgo Dhj, menyatakan pihaknya bakal terus mendorong literasi digital mengenai keselamatan dan kesehatan kerja melalui beragam platform media.

Sebagai penutup, moderator panel sekaligus personil Dewan Pengarah Kepanitiaan, Titi Mulyani, menilai terdapat kesepahaman bahwa AI sekarang menjadi bagian krusial dalam sistem mitigasi akibat industri. (Fal/E-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia