ilustrasi(Antara)
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengungkapkan tiga tantangan besar nan dihadapi Indonesia dalam upaya mencapai swasembada air. Ketiga aspek krusial tersebut meliputi tantangan ruang, waktu, dan mutu.
Tantangan pertama, ialah ruang, berangkaian dengan ketimpangan antara potensi air permukaan dan persebaran penduduk. AHY menjelaskan bahwa proporsi kesiapan air di Indonesia tidak merata jika dibandingkan dengan kebutuhan di setiap wilayah.
“Sebagai contoh, masyarakat Kalimantan itu hanya sekitar 6,2% terhadap masyarakat Indonesia secara keseluruhan, tetapi mempunyai suplai potensi air permukaan 26%,” ujar Agus saat Opening Ceremony Indo Water 2026 Expo & Forum di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta, Selasa (11/8).
Kondisi serupa terjadi di Papua nan mempunyai potensi air mencapai 39%, namun hanya dihuni sekitar 2,2% penduduk. Sebaliknya, Pulau Jawa menghadapi beban berat lantaran menampung 56,1% masyarakat Indonesia, tetapi hanya mempunyai potensi air sebesar 4,5%.
“Inilah ketimpangan nan kita miliki. Jadi jika agregatnya mungkin kita berlebihan air, tetapi jika kita hadapkan keadaan densitas dari jumlah masyarakat di masing-masing wilayah, maka di situ ada permasalahan,” terangnya.
Tantangan kedua adalah waktu. AHY menyoroti rasio kesiapan air di wilayah aliran sungai (DAS) nan berangkaian dengan pasokan tahunan maupun dua mingguan. Pulau Jawa kembali menjadi wilayah paling rentan lantaran pasokan air tahunannya secara konsisten lebih mini dibandingkan kebutuhan tahunan.
Untuk mengatasi perihal ini, dia menekankan pentingnya kecermatan data. “Ini kudu dipastikan secara lebih precise lagi dengan teknologi neraca air di setiap waktu maupun di setiap wilayah kudu betul-betul dijaga secara positif,” tuturnya.
Tantangan terakhir adalah mutu. Menko IPK memaparkan info memprihatinkan di mana sekitar 70% air sungai di Indonesia saat ini dalam kondisi tercemar. Ia mencontohkan Sungai Ciliwung di Jakarta nan ekosistemnya rusak akibat sampah plastik, limbah rumah tangga seperti sofa dan kasur bekas, hingga limbah pabrik.
Menyikapi persoalan mutu ini, AHY menegaskan bahwa solusi prasarana saja tidak cukup. Ia mendorong adanya aktivitas moral berbareng Kementerian PU dan organisasi pecinta lingkungan untuk mengedukasi masyarakat.
“Bukan hanya pendekatan prasarana nan kudu kita hadirkan, tetapi lebih krusial lagi gimana kita bisa mengintroduksi sedini mungkin untuk masyarakat agar peduli pada kebersihan sungai sehingga tidak tercemar dan tidak berpolusi,” pungkasnya.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·