Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator (Kemenko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY mengungkap kondisi Pantura Jawa saat ini.
Dalam rapat koordinasi (rakor) berbareng jejeran kementerian dan lembaga serta kepala wilayah beberapa saat lalu, dia mengatakan bahwa kondisi wilayah tersebut memprihatinkan.
Potensi musibah juga makin besar, lantaran tiap tahunnya penurunan permukaan tanah mencapai 15 hingga 20 cm per tahun.
"Saya mau menyampaikan bahwa setiap saat seperti nan disampaikan oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya beberapa kali, mengatakan telah terjadi penurunan permukaan tanah mulai 15 cm hingga 20 cm per tahun, paling jelek terjadi di Jakarta dan juga di Semarang. Tapi di daerah-daerah lainnya juga terus terjadi land penurunan permukaan tanah," kata AHY dalam paparannya, dikutip Minggu (10/5/2026).
Tak hanya penurunan permukaan tanah, Pantura Jawa juga dihadapi oleh kenaikan permukaan air laut sebagai akibat dari pemanasan global, di mana air laut naik mulai 0,8 cm hingga 1,2 cm per tahun.
Bahkan, pihaknya mengungkapkan jika tidak ada penanganan serius, maka pada 2050 kondisinya bisa lebih parah dari saat ini.
"Di saat nan bersamaan, bisa dikatakan ini sebagai twin pressure, tekanan dobel terjadi kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global, naiknya dari 0,8 cm sampai 1,2 cm per tahun. Ini juga mengakibatkan terus mengintainya banjir rob nan bisa menghancurkan properti, merusak rumah-rumah penduduk dan lain-lain.
Ini berpotensi pada terjadinya musibah nan lebih jelek dan fatal. Bisa dilihat proyeksi penggenangan air laut hingga 2050 jika tanpa intervensi, ini bisa lebih buruk," terangnya.
Tak hanya itu saja, krisis air bersih juga sudah mengintai Pantura Jawa, di mana masyarakat nan tinggal di area tersebut makin susah untuk mendapatkan air bersih.
"Kemudian juga rupanya bukan hanya kita menghadapi kelebihan air dalam corak banjir, tapi juga kelangkaan dan krisis air bersih. Ini juga kudu kita tangani secara serius," tegasnya.
Jika persoalan Pantura Jawa tidak segera ditangani, maka bakal berkapak ke perekonomian Indonesia, di mana pada 2025 Pantura Jawa berkontribusi sebesar 27,53% alias sekitar US$368,37 miliar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
"Ini juga kudu kita tangani secara serius, lantaran potensi kerugian ekonomi cukup besar, di mana Pantura Jawa sendiri berkontribusi sebesar 27% terhadap PDB nasional," jelasnya.
AHY mengatakan masalah di Pantura Jawa kudu ditangani dengan serius agar kerusakan lingkungan tidak makin memburuk di masa depan.
"Jika kita mempunyai proyeksi nan positif, maka kita kudu menangani kondisi Pantura Jawa ini dengan baik dan serius, dijaga jangan sampai terjadi kerusakan lingkungan nan semakin buruk, kita kudu bergerak bersama-sama dan kompak agar masalah di Pantura Jawa bisa kita tangani," ujarnya.
Peringatan dari BRIN
Terpisah, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan area pesisir Pantura Jawa nan membentang dari Kabupaten Serang hingga Kabupaten Situbondo tercatat mengalami erosi pada 65,8% area garis pantainya. Tingginya tingkat pengikisan pesisir ini mengakibatkan degradasi lingkungan nan berakibat langsung pada hilangnya ruang hidup penduduk dan terganggunya prasarana ekonomi di wilayah tersebut.
Hal ini diungkapkan secara komprehensif berasas info riset terbaru oleh Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Tubagus Solihuddin, dalam Expose Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) dan Focus Group Discussion (FGD) bertema "Pantura Tangguh, Indonesia Lestari untuk Integrasi Sains, Inovasi, dan Ketahanan Pesisir", di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Tubagus menyoroti pembangunan permukiman dan pusat aktivitas ekonomi di Pantura melangkah sangat masif akibat tingginya tekanan demografi. Hal ini berujung pada ekstraksi sumber daya laut dan pesisir nan tidak terkontrol.
(fab/fab)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
50 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·