"Cicilannya hanya Rp2 juta per bulan kok, tetap aman." Kalimat seperti ini sering saya dengar ketika seseorang sedang mempertimbangkan mengambil angsuran pinjaman. Entah itu untuk rumah, mobil, alias peralatan elektronik.
Lalu saya biasanya kembali bertanya. "Kalau besok Anda tidak lagi digaji bagaimana? Apa Anda tetap bisa bayar cicilan?"
Nah, pertanyaan itu sering kali membikin musuh bicara saya terdiam. Bukan lantaran cicilannya nan terlalu besar. Namun, lantaran sebagian besar dari kita memang lebih sering menghitung keahlian bayar hari ini saja daripada memikirkan kemungkinan nan bisa terjadi beberapa tahun ke depan.
Padahal, angsuran bukan komitmen 1 alias 2 bulan. Ada nan kudu dibayar 5 tahun, 10 tahun, apalagi lebih. Dalam rentang waktu selama itu, apalagi dengan kondisi ekonomi seperti sekarang, banyak perihal bisa berubah.
Bukan mau menakut-nakuti, justru itulah pentingnya mempersiapkan dengan matang untuk perihal nan berurusan dengan “utang”.
Coba Hitung Biaya Lainnya di Luar Cicilan
Jika ditanya berapa proporsi utang maksimal dari pendapatan rutin nan kita punya, sebenarnya ada beberapa pendapat. Namun, saya pernah membahasnya dalam bagian Cicilan Masih Jalan, Tapi Ekonomi Mulai Goyang dalam Youtube @hatikuningdotcom, rasio nan kondusif untuk berutang yaitu, maksimal 30% dari pendapatan rutin.
Dari situ, kita bakal mulai menghitung nominal angsuran nan dianggap tetap aman. Akan tetapi, nan juga perlu dipikirkan adalah:
"Apa nan membuatmu percaya penghasilan itu bakal tetap sama dua alias tiga tahun lagi?"
"Kalau kondisi finansial berubah, apakah angsuran ini tetap bisa dipertahankan?"
Bukan lantaran saya mendoakan perihal jelek terjadi. Tapi lantaran kondisi ekonomi memang berubah. Perusahaan bisa melakukan efisiensi kapan pun. Target pekerjaan bisa berubah tak masuk akal.
Bonus juga bisa saja hilang. Bahkan, orang nan performanya bagus pun bisa terdampak situasi bisnis. Artinya, keahlian bayar angsuran bukan hanya ditentukan oleh penghasilan hari ini.
Maka dari itu, sebelum mengambil cicilan, jangan hanya menghitung apakah angkanya masuk dalam rasio 30%. Hitung juga total kembang nan bakal dibayar, ruang di cash flow untuk “bernapas”, dan seberapa besar keahlian Anda memperkuat jika kondisinya tiba-tiba berubah.
3 Pertanyaan Sebelum Mengambil Cicilan
Kalau Anda sedang mempertimbangkan mengambil cicilan, coba jawab terlebih dulu 3 pertanyaan ini:
Kalau 3 bulan tidak menerima gaji, cicilanmu tetap aman?
Kalau penghasilan turun 20–30%, pengeluaran apa nan bakal Anda kurangi lebih dulu?
Kalau pekerjaanmu lenyap dan kudu mencari pekerjaan baru, seberapa lama biaya nan Anda miliki bisa bayar cicilan?
Kalau Anda tetap ragu menjawabnya, mungkin Anda perlu sedikit waktu lagi untuk memperkuat fondasi keuanganmu. Bisa dengan menambah biaya darurat alias memperbaiki cash flow.
Karena tujuan mempunyai angsuran bukan sekadar bisa bayar bulan depan. Tujuannya adalah bisa menjalaninya dengan tenang sampai lunas.
Jangan Bertumpu pada Satu Sumber Penghasilan
Tidak sedikit orang punya angsuran jangka panjang tapi hanya berjuntai pada satu sumber penghasilan. Tidak ada biaya darurat. Tidak ada tabungan. Tidak ada ruang di anggaran bulanan.
Kalau semua melangkah lancar, mungkin tidak ada masalah. Kamu tetap bisa menjalani hari-hari seperti biasa. Tapi hidup jarang selalu melangkah sesuai rencana, toh? Kita hidup di masa ketika perubahan bisa datang lebih sigap dari nan kita bayangkan.
Bukan berfaedah Anda kudu memforsir diri dengan punya banyak pekerjaan sekaligus. Namun, ada baiknya mulai memikirkan cadangan.
Bisa berupa biaya darurat, tabungan, alias penghasilan tambahan nan memang disiapkan sebagai alas ketika kondisi tidak melangkah sesuai rencana.
Kamu perlu ingat bahwa angsuran tidak bakal berakhir alias apalagi memaklumi saat kita sedang mengalami masa sulit. Karena itu, nan perlu dipersiapkan bukan hanya langkah mengambil cicilan, tetapi juga langkah mempertahankannya.
Kalau Mulai Kesulitan, Jangan Tunggu Sampai Tunggakan Menggunung
Pesan saya, jika suatu hari kelak Anda mulai merasa kesulitan membayar, hubungi pihak bank alias lembaga pembiayaan, jangan pernah menghilang.
Dalam kitab nan saya tulis “Lulus Cumlaude Mempersiapkan Fondasi Keuangan”, saya katakan bahwa dalam kondisi “terjebak”, bernegosiasilah dengan pemberi pinjaman.
Ceritakan kondisinya dan diskusikan beberapa opsi solusinya. Misalnya memperpanjang waktu pinjaman sehingga jumlah angsuran lebih kecil. Langkah ini jauh lebih baik daripada membiarkan tunggakan terus bertambah.
Intinya, tidak ada nan salah dengan mengambil cicilan. nan perlu dihindari adalah mengambilnya tanpa rencana.
Jadi, sebelum menandatangani perjanjian kredit, pastikan Anda bukan hanya siap bayar angsuran bulan depan, tetapi juga siap menghadapi beragam kemungkinan hingga angsuran itu betul-betul lunas.
Karena fondasi finansial nan baik itu juga dibangun dari keputusan-keputusan mini nan dipikirkan dengan matang.
50 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·