Ada DSI, Nilai Ekspor RI Berpotensi Menggemuk hingga Rp 88,5 T

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menyampaikan potensi optimasi nilai ekspor tiga komoditas sumber daya alam (SDA) strategis mencapai US$ 5 miliar alias setara Rp 88,5 triliun (kurs Rp 17.700) per tahun. Ada tiga komoditas nan menjadi konsentrasi pada tahap awal ini, ialah batu bara, minyak kelapa sawit, dan ferroalloy.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani mengatakan potensi nilai tersebut berasas hasil kajian awal nan dilakukan DSI berbareng Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Ia menegaskan mandat DSI adalah memperkuat visibilitas dalam ekosistem komoditas strategis Indonesia dan meningkatkan pemahaman nan lebih komprehensif atas transaksi ekspor, dinamika pasar, serta gimana memaksimalkan nilai bagi perekonomian nasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Indonesia mempunyai sumber daya alam nan melimpah, tetapi sumber daya saja tidak cukup. Kita memerlukan tata kelola nan lebih kuat, visibilitas nan lebih baik, dan sistem nan lebih akuntabel untuk memastikan nilai nan dihasilkan dari komoditas-komoditas ini dicatat dan dioptimalkan dengan baik bagi kepentingan nasional," ujar Rosan dalam keterangannya, Selasa (25/8/2026).

Dalam kurun sedikit lebih dari dua bulan, DSI telah membangun visibilitas analitis atas sekitar 6.500 deklarasi ekspor nan merepresentasikan lebih dari US$ 14 miliar dalam nilai ekspor dan lebih dari 90 juta ton komoditas. Perdagangan ini bergerak melalui lebih dari 50 pelabuhan muat di 25 provinsi, menuju lebih dari 100 negara tujuan. Dengan mengintegrasikan info dengan referensi pasar global, DSI tengah membangun visibilitas transaksi nan lebih komprehensif, nan menghubungkan harga, volume, kualitas, pengelompokkan Harmonized System (HS), kapal pengangkut, serta pasar tujuan ekspor.

Pendekatan ini memungkinkan pemahaman nan lebih menyeluruh mengenai alur perdagangan dan nilai komoditas strategis Indonesia sepanjang rantai ekspornya. DSI juga berfokus pada integrasi info ekspor nasional dan penyelenggaraan analitik pada tingkat transaksi dengan memanfaatkan sistem pemerintah nan telah ada serta referensi pasar global.

Seiring meningkatnya visibilitas pada tingkat transaksi, DSI mulai mengidentifikasi area-area di mana nilai dapat ditingkatkan dan ditangkap secara lebih optimal di seluruh ekosistem.

Direktur Utama DSI Luke Mahony menegaskan konsentrasi DSI saat ini adalah membangun sistem dan kapabilitas untuk mengimplementasikan mandatnya secara kredibel, terukur, dan berkelanjutan.

"Sejak mulai beroperasi, kami telah mengembangkan visibilitas terhadap ribuan transaksi ekspor serta fondasi analitis nan diperlukan untuk mendukung mandat DSI. Kami bakal terus mengukuhkan kapabilitas pemantauan, verifikasi, dan operasional guna mendukung ekosistem ekspor nan lebih transparan, akuntabel, dan efisien, sekaligus menjaga kepastian berupaya dan keberlanjutan ekspor."

Sebagai BUMN Ekspor nan ditetapkan berasas PP 24/2026, DSI memainkan peran unik dalam mendukung ekosistem ekspor nan lebih terintegrasi, akuntabel, dan tertelusur, sekaligus membantu memastikan Indonesia memperoleh nilai nan lebih besar dari sumber daya alam strategisnya.

Ia menjelaskan DSI tidak menggantikan kegunaan nan telah ada, melainkan melengkapi ekosistem ekspor nan lebih luas dengan memperkuat visibilitas untuk mendukung tata kelola dan pengambilan keputusan nan lebih efektif. Penindakan, perizinan, dan kewenangan izin lainnya tetap berada pada kementerian dan lembaga pemerintah terkait.

(rea/eds)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance