Tulisan ini bukan mau membandingkan gimana peringatan hari pekerja internasional nan dilaksanakan sehari sebelum hari pendidikan nasional. Berbagai aktivitas dilaksanakan sehingga menambah meriah aktivitas tersebut. Hal tersebut berbanding terbalik dengan peringatan hari pendidikan nasional selain lantaran bertepatan dengan akhir pekan Hari pendidikan nasional kemarin tanpa kemeriahan.
Sebagai seorang pembimbing hari pendidikan nasional hanya diperingati secara seremonial saja seperti upacara bendera, setiap pembimbing dan siswa memakai busana budaya kemudian mendengarka pidato nan dibacakan. Selanjutnya kami semua kembali kepada aktivitas rutinitas belajar mengajar. Bagi sebagian besar orang aktivitas hari pendidikan nasional hanya diungkapkan dengan upacara, poster dan beragam ucapan nan di media sosial.
Padahal makna hari ini jauh lebih besar dari pada itu hari Pendidikan Nasional merupakan momen untuk memandang kembali arah pendidikan kita. Apakah pendidikan betul-betul telah membawa anak-anak Indonesia menuju masa depan nan lebih baik. Hari Pendidikan Nasional tidak bisa dilepaskan dari sosok Ki Hajar Dewantara.
Beliau mengajarkan bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Pendidikan bukan hanya soal mengisi kepala dengan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan akal, karakter, dan kepekaan sosial. Sekolah semestinya menjadi tempat anak belajar berpikir, belajar menghargai orang lain, dan belajar mengenal dirinya sendiri.
Kita memang patut berterima kasih lantaran akses pendidikan semakin luas. Sekolah datang di banyak tempat, teknologi mulai masuk ke ruang kelas, dan kesempatan belajar semakin terbuka. Namun di kembali kemajuan itu, tetap banyak persoalan nan perlu dibenahi. Di beberapa daerah, tetap ada sekolah dengan ruang kelas nan rusak, akomodasi belajar nan terbatas, dan akses internet nan belum merata. Ada anak-anak nan tetap kudu menempuh perjalanan jauh hanya untuk bisa belajar.
Kondisi itu menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya menghadirkan keadilan. Ketika satu anak belajar dengan perangkat digital nan lengkap, anak lain tetap berjuang dengan kitab nan terbatas. Ketika sebagian sekolah bisa bergerak sigap mengikuti perubahan zaman, sebagian nan lain tetap tertinggal. Disisi lain peran pembimbing tidak bisa diabaikan mereka merupakan jantung pendidikan. Dari tangan merekalah lahir generasi masa depan. Namun kenyataannya, banyak pembimbing tetap menghadapi tantangan nan tidak ringan.
Padahal tugas mengajar bukan hanya menyampaikan materi. Mengajar adalah membangun hubungan, memahami karakter murid, dan menyalakan semangat belajar. Seorang pembimbing nan datang dengan hati sering kali lebih diingat daripada sekadar pelajaran nan dia sampaikan. Ketika kita berbincang tentang pendidikan, perhatian terhadap kesejahteraan dan ruang mobilitas pembimbing menjadi perihal nan sangat penting.
Hari Pendidikan Nasional mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya urusan sekolah. Keluarga, masyarakat, dan negara mempunyai tanggung jawab nan sama. Anak-anak belajar bukan hanya dari buku, tetapi juga dari teladan nan mereka lihat setiap hari. Mereka belajar dari langkah orang dewasa berbicara, bersikap, dan memperlakukan sesama.
Karena itu, peringatan Hari Pendidikan Nasional semestinya menjadi saat untuk bertanya dengan jujur. Sudahkah pendidikan kita betul-betul menumbuhkan manusia nan berpikir, peduli, dan berkarakter. Sudahkah sekolah menjadi tempat nan membahagiakan bagi anak-anak. Sejauh mana peran pemerintah dalam berkomitmen memajukan pendidikan.
Pada akhirnya hari Pendidikan Nasional bukan sekadar peringatan tahunan. Tetapi kudu menjadi panggilan untuk terus memperbaiki. Sebab pendidikan bukan hanya tentang hari ini, melainkan tentang masa depan bangsa. Dan masa depan itu sedang tumbuh di ruang-ruang kelas, di tangan para guru, dan di mata anak-anak nan menyimpan harapan.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·