Kondisi dasar dari Bendungan Wilalung kering akibat tandus panjang di Desa Kalirejo, Undaan, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (8/9/2026).(Antara)
SEBANYAK sembilan wilayah kabupaten dan kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini resmi berada dalam status siaga darurat menghadapi krisis air bersih. Bahkan, tiga di antaranya telah meningkatkan status menjadi tanggap darurat akibat dampak musim tandus nan semakin meluas.
Perkembangan Penanganan Krisis Air Bersih di NTB
Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, musibah kekeringan ini telah memberikan akibat langsung terhadap ribuan penduduk di beragam wilayah. Berikut adalah info terkini cakupan akibat kekeringan:
- Cakupan Wilayah Terdampak: Meliputi 9 kabupaten/kota, 66 kecamatan, serta 227 desa alias kelurahan.
- Jumlah Jiwa Terdampak: Sebanyak 84.837 kepala family (KK) alias setara dengan 263.310 jiwa.
- Distribusi Air Bersih: Total 3.382.300 liter air bersih telah disalurkan oleh jejeran BPBD kabupaten/kota berbareng BPBD Provinsi NTB.
Pernyataan Resmi BPBD NTB
Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin, menjelaskan bahwa peningkatan status ini dilakukan menyusul eskalasi kekeringan nan kian meluas di beragam kawasan.
"Ada sembilan kabupaten/kota telah menetapkan status siaga darurat kekeringan dan tiga kabupaten di antaranya telah meningkatkan status menjadi tanggap darurat," ujarnya di Mataram, Minggu (14/9).
Sadimin menambahkan bahwa kejadian suasana dunia turut memperburuk situasi musim tandus tahun ini di wilayah NTB. Fenomena El Nino memicu Hari Tanpa Hujan (HTH) nan kian memanjang di seluruh wilayah provinsi.
Lebih lanjut, dia memetakan kondisi wilayah nan masuk ke dalam area merah kekeringan. "Pada peta sebaran, nyaris seluruh Lombok (kecuali sebagian mini Lombok Tengah) dan sebagian besar Pulau Sumbawa bagian timur dan barat masuk dalam area merah alias Rencana Aksi Kekeringan," ungkapnya.
Menghadapi situasi darurat ini, pihak BPBD mengimbau masyarakat agar senantiasa bijak dan berhemat dalam menggunakan air bersih untuk mencegah krisis nan lebih parah.
Sebaran Wilayah Tanggap Darurat dan Siaga Darurat
Dampak kekeringan dirasakan secara bervariasi di masing-masing wilayah dengan rincian info sebagai berikut:
1. Wilayah Berstatus Tanggap Darurat
| Sumbawa Barat | 3 Kec, 8 Desa | 5.795 jiwa | 1,35 juta liter |
| Sumbawa | 13 Kec, 26 Desa | 42.728 jiwa | 640 ribu liter |
| Bima | 14 Kec, 42 Desa | 28.894 jiwa | 320 ribu liter |
2. Wilayah Berstatus Siaga Darurat
- Kabupaten Lombok Timur: Wilayah terparah dengan 41 desa dan 92.999 jiwa terdampak (Distribusi: 40 ribu liter).
- Kabupaten Lombok Tengah: 9 kecamatan, 48 desa, 33.695 jiwa terdampak (Distribusi: 460 ribu liter).
- Kabupaten Dompu: 4 kecamatan, 10 desa, 8.940 jiwa terdampak (Distribusi: 340 ribu liter).
- Kabupaten Lombok Utara: 5 kecamatan, 18 desa, 17.855 jiwa terdampak (Distribusi: 200 ribu liter).
- Kabupaten Lombok Barat: 6 kecamatan, 21 desa, 27.090 jiwa terdampak (Distribusi: 32.300 liter).
- Kota Bima: 4 kecamatan, 12 desa, 3.287 jiwa terdampak.
Penjelasan BMKG Terkait Dampak El Nino
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa kejadian El Nino nan terjadi saat ini masuk dalam kategori sangat kuat dengan nomor indeks mencapai 2,74 derajat Celcius. Hal inilah nan menjadi pemicu utama minimnya curah hujan di NTB.
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, menjelaskan bahwa El Nino membikin musim tandus nan biasanya kering menjadi semakin ekstrem. "Potensi hujan nan biasanya sekali turun di musim tandus sekarang nyaris tidak terjadi sama sekali," pungkasnya. (Ant/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·