Siswa keracunan massal.(MI/Lina Herlina)
KAMIS (3/9) pagi, SMPN 1 Makale, Kabupaten Tana Toraja, mendadak terjadi kepanikan. Puluhan siswa muntah-muntah dan diare, mengantre panjang di depan toilet sekolah.
Dalam hitungan jam, sedikitnya 80 siswa dilarikan ke tiga rumah sakit di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, setelah diduga mengalami keracunan massal akibat menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) nan dibagikan sehari sebelumnya.
Keracunan ini tidak terjadi seketika setelah makanan disantap. Menu MBG berupa nasi, ayam, sayur, tempe, dan melon itu dibagikan kepada para siswa pada Rabu (2/9) sekitar pukul 12.00 Wita kemarin. Namun, indikasi baru mulai dirasakan para siswa pada awal hari tadi.
Kepala SMPN 1 Makale, Yohanis Pakiding, mengungkapkan bahwa sejak subuh, sejumlah siswa sudah mengeluhkan sakit perut.
"Nanti tadi ada nan mengaku subuh baru kena. Jadi kami gejalanya itu, kelak kami tahu pagi-pagi pada saat kami jemput sudah ada nan mengeluh," ujarnya.
Memasuki jam masuk sekolah, kondisi semakin memburuk. Antrean panjang mengular di depan toilet sekolah, para siswa berebut tempat akibat serangan diare dan muntah-muntah.
"Karena sudah mengeluh massal, sudah antre di WC, maka kami ambil tindakan secepatnya," kata Yohanis.
*Evakuasi ke Tiga Rumah Sakit*
Situasi darurat memaksa pihak sekolah mengambil langkah cepat. Sejumlah siswa nan mengalami indikasi paling parah, apalagi ada nan pingsan, langsung dievakuasi ke rumah sakit terdekat.
Bupati Tana Toraja, Zadrak Tombeg, nan langsung meninjau letak kejadian, membenarkan bahwa kebanyakan korban mengalami muntah-muntah terus-menerus dan diare.
"RS Lakipadada merawat 31 siswa, RS Sinar Kasih merawat 27 siswa, dan RS Fatima merawat 22 siswa," ungkap Zadrak.
Selain tiga rumah sakit tersebut, sejumlah siswa juga mendapatkan penanganan di puskesmas terdekat dan Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
Pantauan di RSUD Lakipadada menunjukkan ruang Unit Gawat Darurat (UGD) dipadati siswa. Petugas medis terlihat sibuk menangani pasien nan datang bergelombang dengan keluhan serupa.
Menu Ayam Berair
Lantas, apa nan salah dengan menu MBG hari itu? Kepala Sekolah Yohanis Pakiding merinci komposisi makanan nan disantap para siswa: nasi, ayam, perkedel, serta sayur wortel dengan kuah berair nan diduga mengandung santan.
"Ayamnya dimasak? Ayam apa itu? Saya enggak tahu apa campurannya, tapi dia berair. Santan? Saya enggak tahu apa, saya enggak mengerti apa santan," ujarnya.
Salah seorang siswa nan dirawat di rumah sakit mengaku sudah mencium "sesuatu nan berbeda" dari makanan tersebut. "Kemarin kami makan tempe, ayam dan sayur, tapi rasanya agak lain-lain mi, Pak," kata siswa itu kepada petugas medis.
Pengecekan Hanya Cium Aroma Tanpa Mencicipi
Ternyata, prosedur pengecekan makanan sebelum dibagikan kepada ratusan siswa sangat minimal. Yohanis mengakui bahwa pengecekan hanya dilakukan oleh penanggung jawab (PIC) di sekolah dengan mencium aroma makanan, tanpa ada nan mencicipi terlebih dahulu.
"Sebelum dikonsumsi itu MBG, apakah ada pengecekan? Ada ya, lantaran pengecekannya kan ada dari PIC kami. nan aromanya dicium saja. Tapi kan untuk makan, kita tidak coba dulu kan untuk makan bagaimana," jelasnya.
Instruksikan Penanganan Maksimal
Bupati Zadrak Tombeg telah memerintahkan seluruh ketua rumah sakit di Tana Toraja untuk menerima dan menangani siswa nan mengalami indikasi keracunan secara optimal sesuai standar operasional prosedur (SOP).
"Kita bekerja sesuai SOP nan ada untuk menangani korban. Semoga semua dapat teratasi dengan baik dan segera sembuh," pungkasnya. (LN/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·