Awaludin
, Jurnalis-Jum'at, 10 April 2026 |13:10 WIB

Wakil Tetap RI untuk PBB Umar Hadi (foto: dok Kemlu)
JAKARTA – Indonesia menginisiasi Joint Statement on the Safety and Security of Peacekeepers, sebagai respons atas memburuknya situasi keamanan di Lebanon nan berakibat pada pasukan penjaga perdamaian.
Pernyataan berbareng tersebut mendapat support luas dari negara-negara kontributor pasukan United Nations Interim Force in Lebanon serta sejumlah negara lain. Hingga pukul 16.30 waktu New York pada Kamis 9 April 2026, tercatat sebanyak 73 negara dan observer Perserikatan Bangsa-Bangsa telah bergabung.
Pernyataan itu dibacakan oleh Wakil Tetap RI untuk PBB, Umar Hadi, dalam media stakeout nan digelar berbareng Indonesia dan Prancis di Markas Besar PBB, New York. Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan beragam negara, termasuk Inggris, Rusia, Tiongkok, Pakistan, Bahrain, Spanyol, dan Malaysia.
Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari komitmen Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, untuk mengambil langkah tegas menyusul serangkaian serangan sejak akhir Maret 2026. Serangan tersebut mengakibatkan gugurnya tiga personel penjaga perdamaian Indonesia serta melukai sejumlah personel dari beberapa negara, antara lain Prancis, Ghana, Indonesia, Nepal, dan Polandia.
Kementerian Luar Negeri RI juga terus mendorong Dewan Keamanan PBB, agar melanjutkan penyelidikan menyeluruh terhadap seluruh kejadian nan melibatkan pasukan penjaga perdamaian. Selain itu, negara-negara kontributor menyerukan penghentian kekerasan di Lebanon, deeskalasi ketegangan, serta kembalinya seluruh pihak ke meja perundingan untuk mencapai solusi damai.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·