ilustrasi 707 orang mengalami keracunan MBG di Semarang.(Antara)
DINAS Kesehatan Kota Semarang melaporkan sebanyak 707 orang, terdiri atas 693 siswa dan 14 pembimbing SMK Negeri 6 Semarang, diduga mengalami kejadian keamanan pangan nan diduga usai konsumsi makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Mayoritas korban mengalami pusing, mual, muntah, dan diare dan dirawat di sejumlah rumah sakit di Kota Semarang, ialah di RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum,
"Jadi ini saya kunjungan ke Semarang merespons dari laporan adanya keracunan dari SMK Negeri 6 Semarang ya. Jadi ada sekitar 700an sekian, kemudian sebagian itu kemudian ada nan mual, ada nan buang air dan seterusnya. Dari sekitar 700an itu nan dirawat, nan dirawat 13. Ada nan di rumah sakit, ada nan di puskesmas. Alhamdulillah tadi sudah kita tengok kondisinya sudah baik," kata Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono, Minggu (2/8).
Berdasarkan hasil investigasi awal, BGN menduga kejadian dipicu oleh beberapa bahan makanan nan tetap dalam proses pemeriksaan laboratorium, serta waktu memasak nan dilakukan terlalu awal sebelum makanan didistribusikan.
"Sejauh ini investigasi nan kami terima adalah ada beberapa bahan, ya ada daun singkong, ada ramuan rendang dan lain-lain, kita lagi cek minta dari Dinas Kesehatan untuk dicek lab-nya. Kita butuh waktu paling tidak ya 7 hari, 5 hari kerja begitu untuk sampai dengan hasilnya. Kemudian kita bisa lihat hasil lab-nya. Tapi sejauh ini investigasi kita sejauh ini adalah dari bahan-bahan itu dan diduga memasaknya jauh lebih awal," lanjut Mas Dar sapaan akrabnya.
Untuk mencegah kejadian serupa, BGN tengah mempercepat penerapan sistem digital nan memungkinkan seluruh tahapan produksi makanan terdokumentasi dan dipantau secara menyeluruh, mulai dari waktu memasak, menu, hingga penggunaan bahan dan bumbu.
"Kita sudah siapkan sistemnya. Ini sekarang lagi kita paksa semua dapur, ada Korcam dan lain-lain, lagi kita paksa kita kerja pakai sistem. Jadi kapan kol mulai dicacah, kapan dimasak itu semua kita lock. Dan kita lagi siapkan ini (sistemnya). Kita kebut semua. Moga-moga seminggu dua minggu ini sudah beres. Kemudian, kita harapkan orang tua siswa, guru, dan barangkali Dinas Kesehatan bisa ngelihat jam berapa dimasak, apa saja nan dimasak, ramuan apa nan dimasukkan tuh kudu kemudian tersistem, termonitor semua," ujar Mas Dar.
Sudaryono memastikan bahwa pihaknya telah menjatuhkan hukuman berupa pemberhentian sementara (suspend) kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi nan melayani para penerima faedah tersebut.
"Jadi dapurnya di-suspend (sambil) menunggu (hasil) investigasi. Jadi kemudian SPPG-nya juga kita beri surat peringatan. Jadi di-suspend ini kan ada mitra, ada yayasan, ada SPPG, ada nan di situ kita beri hukuman termasuk Korcam dan ke atas ini kami beri peringatan," pungkasnya. (Iam/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·