
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba anjlok. (Foto: Okezone.com/Freepik)
JAKARTA – Perdagangan saham Rabu pagi, 28 Januari 2026, mengejutkan pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba ambruk 6,53% ke level 8.393.
Padahal, pada penutupan sesi sebelumnya, Selasa 27 Januari 2026, IHSG tetap berada di level 8.980.
Penyebab merosotnya indeks saham ini lantaran pengelola indeks global, MSCI, membekukan sementara perubahan indeks pada saham-saham Indonesia. Beberapa poin krusial nan menjadi dasar keputusan MSCI antara lain kekhawatiran penanammodal dunia mengenai pengelompokkan pemegang saham dalam laporan Monthly Holding Composition dari KSEI.
Adanya indikasi keterbatasan info mengenai konsentrasi kepemilikan saham dikhawatirkan dapat memicu perilaku perdagangan terkoordinasi, sehingga mengganggu pembentukan nilai nan wajar (fair pricing).
Berikut fakta-fakta menarik mengenai anjloknya IHSG hingga memicu trading halt pekan ini, Minggu (1/2/2026):
1. Penyebab IHSG Anjlok
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG dipicu oleh keputusan MSCI nan membekukan sementara penilaian terhadap saham-saham Indonesia. Pembekuan tersebut mengenai rumor free float serta transparansi kepemilikan saham di pasar domestik.
Menurut David, kondisi ini memicu tindakan jual nan cukup besar, terutama pada saham-saham konglomerasi dan blue chip. Meski demikian, dia menegaskan bahwa koreksi tajam IHSG bukan disebabkan oleh pelemahan esensial ekonomi Indonesia.
"Penurunan ini bukan dari esensial Indonesia tapi dari luar. Ini kesempatan, tapi juga aware dan ukur risk profile kita sendiri," ujar David.
2. Respons BEI
Bursa Efek Indonesia (BEI) berbareng otoritas pasar modal lainnya segera mengambil langkah proaktif menanggapi keputusan MSCI nan membekukan sementara perubahan indeks saham Indonesia. Otoritas menegaskan komitmennya untuk memenuhi standar transparansi nan diharapkan oleh penanammodal global.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menyatakan bahwa sinergi antara OJK, BEI (IDX), dan KSEI terus diperkuat untuk memberikan penjelasan serta solusi atas keraguan nan muncul mengenai info kepemilikan saham publik (free float).
"Terkait dengan pengumuman dari MSCI pagi ini, OJK, IDX, dan KSEI bakal terus melakukan obrolan dengan MSCI. Sebelumnya, kami telah meningkatkan keterbukaan dengan penyampaian pengumuman info free float di website BEI," tulis Kautsar.
Pihak otoritas juga membuka ruang lebar bagi MSCI untuk memberikan masukan lebih lanjut jika keterbukaan info nan ada saat ini dianggap belum mencukupi standar internasional.
3. IHSG Anjlok 8%
BEI melakukan pembekuan sementara perdagangan saham alias trading halt pada Rabu, 28 Januari 2026, menyusul penurunan tajam IHSG nan mencapai 8% ke level 8.261,79.
Penghentian sementara perdagangan dilakukan pada pukul 13.43.13 WIB melalui Jakarta Automated Trading System (JATS). BEI menyampaikan bahwa perdagangan bakal kembali dibuka pada pukul 14.13.13 WIB, tanpa perubahan agenda perdagangan bursa pada hari nan sama.
4. Investor Panic Selling
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, buka bunyi mengenai IHSG nan merosot hingga menyentuh level terendah 8.187 pada perdagangan Rabu (28/1/2026).
Menurut Iman, anjloknya IHSG terjadi lantaran penanammodal melakukan panic selling pasca pengumuman MSCI (Morgan Stanley Capital International).
"Apa nan terjadi hari ini memang menurut saya ada panic selling. Karena ada dua perihal nan disampaikan, bulan Februari rebalancing dibekukan, jadi tidak ada penambahan dan pengurangan konstituen perusahaan tercatat di MSCI," ujarnya.
8 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·