Jakarta, CNBC Indonesia - Pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad berhujung tanpa kesepakatan, menegaskan kebuntuan diplomasi di tengah bentrok nan terus memanas sejak akhir Februari 2026.
Negosiasi selama nyaris 21 jam itu kandas menghasilkan titik temu, meski dihadiri pejabat tinggi kedua negara dan dimediasi secara intensif oleh Pakistan. Presiden Pusat Studi Timur Tengah sekaligus pengajar tamu Universitas HSE Moskow, Murad Sadygzade menilai kegagalan ini sudah dapat diprediksi sejak awal.
"Perundingan ini sejak awal memang ditakdirkan kandas dalam keseimbangan kekuatan saat ini, tanpa kesepakatan, tanpa jabat tangan," ujarnya, seperti dikutip RT, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, lembah antara Washington dan Teheran sekarang bukan lagi sekadar politik, tetapi juga dipenuhi memori bentrok militer nan susah dijembatani. Ia menuturkan setidaknya ada enam argumen kenapa pembicaraan gencatan Senjata AS dan Iran gagal.
Alasan pertama kegagalan adalah konsentrasi pembicaraan nan lebih berkutat pada masa lampau daripada masa depan. AS menekan Iran mengenai program nuklir dan kebebasan navigasi, sementara Iran menuntut kompensasi dan pengakuan kepentingan regionalnya.
"Secara umum mereka bicara masa depan, tapi substansinya memperdebatkan masa lalu," kata Murad.
Kedua, absennya kepercayaan menjadi penghalang utama. Retorika AS nan menyebut "penawaran terbaik dan terakhir" justru dipersepsikan sebagai ultimatum oleh Iran.
"Nada seperti itu bukan undangan damai, melainkan corak superioritas nan justru menutup ruang kompromi," jelas Murad.
Ketiga, AS dinilai masuk ke meja perundingan dalam kondisi terdesak. Konflik nan tak kunjung selesai telah mengguncang pasar daya dan meningkatkan tekanan ekonomi global.
"Washington memerlukan jarak lebih dari nan mau mereka akui," ujar Murad, menyoroti urgensi strategis di pihak AS.
Keempat, tekanan politik domestik di AS turut mempersempit ruang mobilitas negosiasi. Aturan norma mengenai penggunaan kekuatan militer dan perpecahan di internal politik membikin posisi pemerintah tidak solid.
"Ketika satu pihak tertekan oleh waktu politik domestik, insentif untuk mengalah justru menurun," kata Murad.
Kelima, kegagalan membangun koalisi internasional memperlemah posisi AS. Dukungan dari sekutu, termasuk di Eropa, tidak sepenuhnya solid dalam bentrok ini.
"Kekuatan AS paling efektif saat tampil sebagai kekuatan kolektif, dan itu tidak terjadi dalam kasus Iran," ungkapnya.
Keenam, posisi tawar Iran justru menguat di tengah konflik, terutama setelah bisa memengaruhi jalur strategis Selat Hormuz. Selain itu, support domestik terhadap pemerintah Iran meningkat.
"Iran tidak merasa sebagai pihak nan kalah, sehingga mereka menuntut nilai tinggi untuk deeskalasi," tutur Murad.
Murad menegaskan bahwa kegagalan ini mencerminkan pemisah pendekatan lama AS di Timur Tengah. Model tekanan nan diikuti dengan tawaran kompromi dinilai tidak lagi efektif dalam menghadapi Iran saat ini. Dengan kondisi tersebut, kesempatan tercapainya kesepakatan tenteram dalam waktu dekat semakin kecil, sementara akibat bentrok kembali memanas tetap tinggi.
(tfa/tfa)
[Gambas:Video CNBC]
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·