Di bumi mode, ada ranah nan terkesan jauh dari realita, adibusana alias haute couture. Pekan modenya hanya diikuti oleh beberapa nama terpilih, panggungnya memperagakan karya-karya buatan tangan nan menyatukan konsep dan pendapat daripada selera pasar.
Tak terkecuali untuk musim dingin 2026/2027, para desainer beradu visi dan kreativitas, para pecinta mode dimanjakan dengan karya terbaik nan lebih seperti karya seni daripada sehelai pakaian.
Berikut catatan krusial dari show haute couture musim dingin 2026/2027 di Paris:
Iris Van Herpen: Sains nan Berpendar
Bertema Sonic Starquakes, koleksi desainer asal Belanda ini menjelajah luar angkasa dengan permainan plasma. Tak ada rumah mode nan menjadikan sains sebagai urat nadi dibandingkan Iris Van Herpen.
Hampir dalam dua dasawarsa ini, dia selalu mendobrak batasan-batasan antara material, karya tangan, sains, alam, dan penemuan baru. Hal nan menjadikan persepsinya berbeda adalah dia percaya bahwa teknologi selalu berpulang pada alam. Salah satu gaunnya berpendar sebelum waktunya, akibat enerji nan dilepaskan dan membentuk pendar nan bercabang, mengurat seperti daun, daging, kejadian alam lain , menjadi karya nan melibatkan kombinasi tangan alam.
Helix Nebula, koleksi finalnya, terbuat dari puluhan ribu bola-bola gelas berisi plasma nan merespon sentuhan manusia. Iris Van Herpen adalah couturier di level teratas.
Balenciaga: Volume & Warna Monumental
Peragaan adibusana pertama oleh Pierpaolo Piccioli untuk rumah mode Balenciaga merupakan momen nan ditunggu-tunggu. Piccioli adalah desainer piawai nan dikagumi berkah talenta dan kehandalannya tak hanya meneruskan nama besar Valentino namun juga membawa label Italia ini berada di barisan terdepan.
Tak heran jika publik pun menunggu-nunggu gebrakan apa nan bakal ditampilkan, dan jawabannya memuaskan. Di koleksi ini dia mengapresiasi style dan corak unik sang pendiri, couturier Cristóbal Balenciaga. Perpaduan volume nan sculptural, ledakan warna dan tekstur nan kaya menemani langkah-langkah mantap pemakainya.
Jean Paul Gaultier: Marie Antoinette & Louis XVI dari Masa Depan
Ratu dan raja Prancis abad 18 menjadi sumber inspirasi Duran Lantink. Koleksinya bukan nostalgia, keduanya datang dari masa depan. Desainer Belanda nan menjadi kepala imajinatif Jean Paul Gaultier sejak tahun lampau ini terkenal dengan penemuan berbasis teknologi.
Terlebih dalam peragaan haute couture pertamanya ini Lantink mempertontonkan buahpikiran futuristik dengan penempatan proporsi dan kegunaan nan tak biasa.
Marie Antoinette mengenakan busana beludru nan bentuknya mengingatkan pada tempat lilin, dengan pinggang berbentuk tomat alias delima. Rok kurung pindah proporsi, muncul dari pipa paralon raksasa dari depan dan belakang.
Sementara Louis XVI mempunyai dada nan terdistorsi di atas pantalon longgarnya.
Fendi: Heningnya Simplisitas
Berada di ujung spektrum nan lain, Maria Grazia Chiuri memilih simplisitas dalam karya haute couture pertamanya untuk Fendi. Pulang kampung di Roma, pergelaran menunjukkan karya-karya tangan para artisan Fendi nan mempunyai spesialisasi kerajinan inggil untuk bulu, kulit, dan tekstil. Jauh dari kekakuan struktur, koleksi ini begitu cair mengalir, busana jatuh di badan model dengan indahnya. Bermain di kisaran warna hitam, putih, dan nude, dia menggunakan renda, satin sutra, georgette nan ringan, dan tentu saja fur nan menjadi karakter unik Fendi.
Celana-celana nan tak kerap datang di atas panggung adibusana, banyak bermunculan dengan garis pinggang di atas dan berpotongan longgar. Di bumi Fendi, couture adalah keseharian, membawanya lebih dekat dengan realita.
Penulis: Rifina Marie
51 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·