
PT Agrinas Pangan Nusantara berencana mengimpor 105 ribu unit mobil pick-up dari India. (Foto: Okezone.com/Carry)
JAKARTA – PT Agrinas Pangan Nusantara berencana mengimpor 105 ribu unit mobil pick-up dari India untuk operasional Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Rencana impor ini mendapat sorotan dari DPR, pelaku industri, dan buruh, lantaran industri otomotif nasional sebenarnya bisa memproduksi kendaraan pick-up hingga sekitar 1 juta unit per tahun.
Berikut fakta-fakta menarik seputar rencana impor 105 ribu unit mobil pick-up, Senin (23/2/2026):
1. Respons DPR
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty mewanti-wanti perjanjian pengadaan kendaraan niaga senilai Rp24,66 triliun nan digarap PT Agrinas Pangan Nusantara. Menurutnya, perlu dicermati efisiensi anggaran dan penggunaan produk dalam negeri.
Evita menilai, dengan nilai proyek sebesar Rp24,66 triliun, kebijakan ini mempunyai akibat strategis, tidak hanya terhadap pengedaran pangan desa, tetapi juga terhadap arah kebijakan industri nasional.
“Ini pengadaan dalam skala sangat besar. Dampaknya bukan hanya pada logistik desa, tetapi juga terhadap struktur industri otomotif nasional,” ujar Evita.
2. Detail Mobil Pick-Up Impor
Detailnya, ada 35.000 unit Scorpio Pick-Up dipasok oleh Mahindra & Mahindra, dan 70.000 unit lainnya berasal dari Tata Motors, terdiri atas 35.000 unit Yodha Pick-Up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.
Evita menyoroti transparansi dan rasionalisasi spesifikasi teknis, terutama andaikan pengadaan diarahkan pada jenis penggerak empat roda (4x4). Menurutnya, tidak semua jalan desa di Indonesia memerlukan kegunaan 4x4. Mayoritas pengedaran logistik desa tetap dapat dilayani kendaraan 4x2 produksi dalam negeri.
Atas dasar itu, penggunaan anggaran untuk pengadaan ini patut ditinjau lebih lanjut. Sebab, kendaraan 4x4 mempunyai nilai pembelian dan biaya operasional nan lebih tinggi dibanding 4x2, sehingga keputusan spesifikasi kudu mempertimbangkan efisiensi anggaran dan keberlanjutan operasional koperasi.
3. Gerus PDB hingga Rp39 Triliun
Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menekankan bahwa importasi kendaraan dari India berpotensi besar mengurangi mata pencaharian pekerja pabrik otomotif.
Tak hanya itu, pelaku upaya seperti pemilik bengkel dan penyedia suku cadang juga terdampak. Bahkan pengusaha besar nan mempunyai pabrik berskala nasional bakal terguncang kestabilan keuangannya.
"Tidak ada aktivitas ekonomi nan diciptakan dari importasi ini. Bahkan bisa menggerus pangsa pasar produk pick-up nan sudah diproduksi alias dirakit dalam negeri. Ekonomi kita bisa menyusut lantaran impor ini bakal mengurangi PDB," kata Huda.
Dari kajian Celios, PDB bisa tergerus hingga Rp39,29 triliun, kehilangan pendapatan masyarakat mencapai Rp39,05 triliun, dan 330 ribu orang berpotensi kehilangan pekerjaan.
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·