3 Fakta Gencatan Senjata AS-Iran di Ujung Tanduk

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berada di periode kehancuran. Eskalasi terbaru di Selat Hormuz hingga serangan ke Uni Emirat Arab (UEA) memicu kekhawatiran bentrok terbuka bisa kembali pecah dalam waktu dekat.

Berikut tiga kebenaran utama nan menunjukkan rapuhnya gencatan senjata dan potensi perang baru:

1. Baku Tembak di Selat Hormuz Memanas

Ketegangan meningkat tajam di Selat Hormuz, jalur vital nan dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Militer AS dilaporkan menenggelamkan enam kapal mini Iran, namun Teheran membantah kapal tempurnya terdampak.

Sebaliknya, Iran menuding AS menyerang kapal sipil. "Mereka membunuh lima penumpang sipil dan kudu dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan mereka," demikian laporan televisi pemerintah Iran, seperti dikutip AFP, Selasa (5/5/2026).

Presiden AS Donald Trump apalagi menakut-nakuti keras. Ia menyatakan Iran bakal "dihancurkan dari muka bumi" jika menyerang kapal-kapal AS nan melintas di area tersebut.

2. Serangan ke UEA Picu Alarm Regional

Untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata, UEA melaporkan serangan langsung dari Iran berupa rudal dan drone nan menargetkan akomodasi daya di Fujairah. Tiga penduduk India dilaporkan terluka.

Kementerian luar negeri UEA mengecam keras tindakan tersebut. "Serangan-serangan ini merupakan eskalasi rawan dan pelanggaran nan tidak dapat diterima," tegasnya.

Selain itu, serangan juga dilaporkan mengenai wilayah Oman di sekitar Selat Hormuz, memperluas potensi bentrok regional. UEA apalagi menutup sekolah dan kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh sebagai langkah darurat.

3. Harga Minyak Melonjak, Dunia Siaga

Eskalasi bentrok langsung mengguncang pasar daya global. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 5% pasca serangan di UEA, memperburuk tekanan ekonomi global.

Lonjakan nilai daya ini berpotensi menambah beban konsumen bumi dan menjadi tantangan politik bagi Trump menjelang pemilu kongres.

Di sisi lain, Iran menegaskan tidak ada solusi militer untuk krisis ini. "Tidak ada solusi militer untuk krisis politik," kata Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi seraya memperingatkan AS agar tidak makin terjebak dalam konflik.

Meski demikian, diplomasi antara kedua negara tetap buntu. AS apalagi membatalkan rencana perundingan lanjutan, sementara Iran tetap bersikeras mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz.

(tfa/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News